Featured

Coretan Singkat Buku Anarkisme Untuk Pemula

Hasil gambar untuk anarkisme untuk pemula

Kebebasanku adalah sebuah kebebasan yang berfungsi bagi kebebasan semua orang. Penindasan bagi beberapa orang adalah tali kekang perbudakan bagi orang lain. Aku hanya dapat membebaskan diri ketika aku mengakui kebebasan dan kemanusiaan orang lain.” – Mikhail Bakunin.

Yup! Semangat kebebasan itu pula yang juga diusung oleh buku ini. Buku Anarkisme Untuk Pemula sejak awal sudah menunjukkan kebebasannya dari halaman pertama, yang tidak memiliki identitas buku pada bagian depan, daftar isi, bahkan kata pengantar sekalipun!

Buku Anarkisme Untuk Pemula merupakan buku bacaan ringan mirip komik. Buku seberat ± 0.20 kg ditulis oleh Marcos Mayer (seorang jurnalis, profesor dan penulis), dan diilustrasikan secara menarik dan gamblang oleh Sanyú (seorang ilustrator dan kartunis Argentina yang sebenarnya bernama Hector Alberto Sanguiliano). Buku seringan ini hanya memiliki 168 halaman.

Buku Anarkisme Untuk Pemula, sesuai dengan judulnya, merupakan pengenalan singkat mengenai paham anarkisme ini. Merujuk dari KBBI, anarkisme adalah ajaran (paham) yang menentang setiap kekuatan negara; teori politik yang tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang. Dasar anarkisme dijelaskan dengan jelas pada halaman 2, yaitu bahwa Negara dan-atau pemerintah  adalah alat utama  penindasan  manusia  yang telah berlangsung sepanjang sejarah dan hal itu menjadi alasan untuk menciptakan cara hidup baru lewat solidaritas dan kebebasan.

Dalam mengenalkan paham anarkisme ini, tentunya tak terlepas dari tokoh-tokoh penting yang memiliki semangat dan tendensi untuk mengubah kehidupan yang penuh penindasan ini. Tokoh-tokoh itu seperti Joseph Proudhon (sang pionir, seorang anarkis utopis), Mikhail Bakunin (seorang anarkis kolektif, ateis yang sering salah disamakan dengan Karl Marx karena secara rupa mereka hampir mirip, namun sebenarnya mereka adalah dua tokoh intelektual yang sering beradu argumen mengenai cara pandang terhadap dunia yang penuh penindasan), Peter Kropotkin (seorang bangsawan dan pangeran Rusia, namun kemudian menanggalkan statusnya itu untuk menjelajah dan belajar tentang anarkisme untuk membantu memperjuangkan kebebasan kaum proletar dari kerja produksi semena-mena), William Godwin (pendeta anarkis komunis tanpa gereja), Max Stirner (yang terkenal dengan anarkisme individualis), Leo Tolstoy (karyanya yang terkenal War & Peace yang menerapkan anarkisme lewat cara-cara damai dan relijius), Enrico Malatesta (pejuang anarkis di Italia), Diego Abad de Santillan (anarkis Spanyol), Emma Goldman (seorang anarkis feminis, buruh perempuan yang berjuang membela dan mengangkat martabat kaumnya) dan masih banyak lagi yang secara sekilas disebut-sebut dan diceritakan secara singkat.

Buku ini tak hanya menceritakan kiprah tokoh-tokoh anarkis dengan macam-macam anarkisme yang diusung mereka. Buku ini juga menceritakan sejarah anarkisme beberapa bangsa seperti di Spanyol, Perancis, Italia, Rusia Jerman dan lainya yang sarat akan aksi demonstrasi, perusakan fasilitas umum dan bahkan pengeboman. Lalu, anarkisme ini juga tak melulu melalui hal-hal tersebut, namun juga mendapatkan tempat dalam musik, puisi, lukisan dan drama.

Menurut penulis, buku bertema sosial-sejarah ini sangat menarik. Mengapa? Sebab buku ini memiliki gaya dan penyajian yang menarik dan ringan, bahasa yang singkat dan blak-blakan serta ilustrasi-ilustrasi yang mendukung dan menggelitik para pembaca di setiap halamannya. Dalam sekali duduk, isi buku ini bisa langsung “dilahap” pembaca sambil minum kopi, makan snack dan bersantai di mana pun dan kapan pun.

Tak hanya untuk mengiisi waktu luang, buku ini bisa jadi merupakan dasar-dasar bagi pembaca untuk menyusun siasat memperebutkan kebebasan, yang merasa hak dan kewajibannya terkekang oleh seseorang atau institusi tertentu seperti sekolah, kampus, pemerintah atau negara, yang merasa muak dengan pemimpin-pemimpin yang semena-mena, dan sok-sok-an berkuasa sepanjang hidup, korup, dan menindas harkat martabat orang banyak. Intinya, siapa yang merasa tidak bebas, monggo dibaca bukunya. “Mereka-mereka, militan yang paling sadar, mesti menjadi yang pertama memimpin kawan lain dengan menjadi contoh di dalam perjuangan.” oleh Diego Abed de Santillan.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

Advertisements
Featured

20 Tahun

Perayaan seperti apa yang cocok untuk mengenang 20 tahun perjalanan hidup semuda ini?

Mari ku ajak kau bermain-main dengan waktu. Kita kembali ke masa kecilmu yang dulu. Lihat, itu dirimu! Menangis meminta air susu di hari Minggu. Meski kau menyapa dunia dengan tangismu, dunia tetap menerimamu dengan senyumnya.

Kata dan bahasa. Itu alat yang penting supaya kau dan aku saling paham. Kau mulai berkata-kata, menirukan sedikit kata-kata yang diucap dari bibir orangtuamu. Dan lagi, kau mulai menggunakan inderamu, bagian tubuhmu yang juga penting untuk mengenali duniamu.

Pendidikan dini mulai kau jamah. Awal yang baru bersama bocah-bocah seumuranmu. Tapi oh! Siapa yang mengajarimu bertindak seperti itu? Gadis kecil itu, tak kau kasihanikah? Aku pun sedih melihatmu terpojok di sudut ruang itu, sepi menyendiri. Maaf aku tidak bisa membantumu kala itu.

Nah, kini kulihat kau sedang bersenang-senang dengan teman-temanmu. Aku yakin betul kau sudah belajar dari masa pahit itu. Aku pikir mereka juga senang di dekatmu.

Kau tahu, apa yang bisa kau pelajari dari kakakmu itu? Yup benar! Kau tahu seperti apa laki-laki seharusnya. Tak usah kau pendam dendam itu. Yang bisa kau perbuat ialah menyayangi kakakmu dan si kecil itu.

Sini kubujuk engkau. Aku tahu ini pengalaman pertamamu jauh dari mereka, orang-orang yang kau cintai. Tapi yakinlah, kau bakal menemukan kembali orang-orang baru yang bisa kau cintai di sini. Di sini aku melihat, kau mulai belajar berdiri di kaki sendiri meskipun harus terjatuh berkali-kali. Terbentur! Terbentur! Terbentur! Terbentuk! Itu sesuatu yang hebat bukan?!

Wah, kali ini kau ku kenalkan dengan kebebasan. Aku tahu, itu bukan sembarang konsep. Apalagi tak mudah untuk sekadar melaksanakannya. Tetapi cobalah terus untuk kau refleksikan. Hidup dipenuhi pilihan. Konsekuensi selalu ada di setiap pilihanmu. Pilihlah maka kau bebas. Aku tidak ingin kau merasa terkungkung, ikut-ikutan dan membuta-membebek. Aku tidak ingin juga kau untuk berlaku seliar-liarnya karena itu merusak kebebasan itu sendiri. Dan satu lagi, jangan coba-coba untuk menganggu kebebasan orang lain ya!

Oke, kita semakin lama semakin mendekati pintu realitas. Lihat, banyak sekali jalan di luar sana! Kau bingung memilih jalan apa kan? Tak soal. Cobalah jalan terus, sambil menguping di hatimu. Meski pun kau bimbang dengan masa depan, yang kadang pula menjadi ketakutan dalam tidur malam, yang bisa kau lakukan ialah merasa bahagia hari ini. Ya hari ini! Suatu solusi kah itu? Tidak tentunya. Itu pun tak menjamin membuatmu hidup tenang hari ini. Kejenuhan dan kepenatan, kelabilan dan kebimbangan, kecemasan dan kegalauan hanya ilusi agar kau tidak sungguh-sungguh memainkan peranmu di atas dunia ini. Hidup ini absurd. Hidup ini tak bermakna. Banyak orang menyebarkan omong kosong bahwa hidup itu harus punya arti. Benar juga kata Pak Tua, “Hidup itu sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya”. Yang memahami hidupmu hanya kamu, bukan dia atau siapa pun.

Aku tahu, dari hari ke hari kau merasa terasing. Apa kau merasa teralienasi dari kenyataan? Hmm, aku pun tak tahu dari mana itu bisa terjadi. Aku hanya tahu, dari gelagatmu itu, diam-diam kau merasa ada yang tidak beres dengan sekitarmu. Dan coba kutebak… banyak hal yang sedang kau pikirkan, bukan?! Oke, percaya saja bahwa cahaya akan datang pada waktu yang tepat.

Sini! Kuajak kau berkaca. Ada sebuah cermin di sana. Lihat, kau sudah tumbuh seperti ini! Oh iya, Mama dan Kakak sudah bersama. Mereka sudah memiliki kebebasan sejati dan hidup aman-nyaman dalam gendongan Bapa. Ucapkan terima kasih pada semuanya, bahkan kepada bunga yang mati di taman atau angin yang tak bisa kau lihat. Aku yakin sekali 20 tahun hidupmu ini ditata seapik mungkin sekehendak Kuasa-Nya. Pada perayaan ini aku ingin bertanya, kau ingin apa?

“Aku ingin terus berharap.”

Jayapura, 16 November 2017

Featured

Madilog oleh Tan Malaka untuk Indonesia

madilog

Madilog atau materialisme, dialektika dan logika merupakan buah pikir Tan Malaka. Madilog ditulis di Kalibata, Cililitan, Jakarta. Tan Malaka menulis buku ini sejak 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943. Artinya Tan membutuhkan waktu kurang lebih 8 bulan, 720 jam, 3 jam sehari untuk menyelesaikan karyanya ini.  Buku ini ditulis sembari akrab dengan pelarian Tan Malaka dari jarahan militer Jepang kala itu.

Madilog merupakan karya revolusi Tan, sebab madilog merupakan cara berpikir kaum proletar. Materialisme, dialektika dan logika merupakan hasil budaya barat (lebih tepatnya cara berpikir kaum proletar barat buat membentuk gerakan-gerakan revolusioner) yang diracik sedemikian rupa oleh Tan Malaka sehingga cocok dengan iklim masyarakat Indonesia.

Buku ini pun muncul sebagai bentuk keprihatinan Tan Malaka pada bangsa Indonesia. Kaum proletar Indonesia kala itu masih minim pola/cara berpikirnya. Apalagi, kebudayaan timur bangsa kita yang cenderung bergantung pada kegaiban atau hal-hal berbau roh.  Tan menyebut ini sebagai Logika Mistika. Kecenderungan masyarakat kita pada cara berpikir seperti ini menurut Tan Malaka justru melumpuhkan, sebab segala persoalan yang dihadapi masyarakat kita, khususnya kaum proletar kita, dianggap sebagai takdir, di luar kuasa dan tak bisa diselesaikan/dipecahkan lagi. Dampaknya bagi bangsa kita ialah imperialisme dan kolonialisme oleh bangsa lain (Belanda dan Jepang kala itu) semakin bersimaharajalela menindas bangsa kita. Maka, Madilog-nya Tan Malaka lahir sebagai pelopor dan jawaban yang setidaknya mampu membantu membentuk cara berpikir yang baru bagi kaum proletar Indonesia pada khususnya, dan kaum terpelajar Indonesia untuk berjuang demi keadilan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Dalam Madilog, sesuai judulnya, terdapat tiga pokok besar yang akan dikemukakan oleh Tan Malaka. Ketiga pokok itu antara lain, Mater atau benda, Dialectica atau pergerakan/pertentangan dan Logica atau hukum berpikir. Ketiga pokok tersebut saling berhubungan atau  bertautan satu dengan yang lain.

Mula-mula Tan Malaka mengenalkan kita pada paham kebendaan atau yang biasa disebut filsafat materialisme. Tan menggunakan dasar materialisme Engels.  Secara garis besar, materialisme ini menjelaskan soal benda atau materi. Benda atau materi sebagai dasar atau pijakan buat berpikir. Konsep mengenai benda ini bisa kita pahami dengan penginderaan. Hasil penginderaan itulah yang membentuk konsep atau ide dalam pikiran kita, sehingga kita bisa memahami (kodrat) benda itu sendiri.

Filsafat materialisme inilah yang kemudian menelurkan ilmu-ilmu alam. Ilmu-ilmu alam merupakan hasil pengamatan/penginderaan terhadap fenomena-fenomena alam. Dari hasil pengamatan/penginderaan tersebut lahirlah bukti, teori, atau hukum dasar yang digunakan sebagai dasar berpikir manusia untuk memahami alam, makhluk-makhluk hidup dan segala kejadian-kejadian di dalamnya. Sebut saja fisika, biologi dan kimia yang kita pelajari waktu di sekolah menengah bahkan hingga saat ini, berguna buat kehidupan dan memajukan peradaban kita dari hidup primitif menjadi modern.

Bukan hanya ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu masyarakat pun merupakan hasil dari filsafat materialisme. Masyarakat dan segala bentuk interaksinya merupakan sesuatu yang bisa dijadikan dasar buat dipelajari demi tercapainya pemahaman terhadap masyarakat dan segala aspek yang melingkupinya.

Setelah berkenalan dengan Mater, Tan Malaka akan memperkenalkan kita dengan Dialectica, salah satu cara berpikir buat memahami Mater tadi. Dialektika Engels ini merupakan ilmu pergerakan atau ilmu pertentangan. Dialektika dinamakan ilmu pergerakan sebab benda senantiasa bergerak atau berubah. Pergerakan atau perubahan ini disebabkan oleh perubahan kualitas akibat perubahan kuantitas. Dialektika juga dinamakan ilmu pertentangan sebab sebuah benda akan menegaskan dirinya sendiri dan menunjukkan kodratnya yang hakiki dengan membatalkan dirinya sendiri atau biasa disebut pembatalan kebatalan negation der negation.

Lalu, “senjata” berpikir terakhir yang diperkenalkan Tan Malaka pada kita ialah Logica. Logika sudah jamak terdengar di telinga kita, bahkan sejak sekolah dasar, logika atau hukum berpikir yang masuk akal ini mulai dibentuk, diajarkan dan diasah terus-menerus hingga saat ini. Sebut saja matematika dan geometri yang sungguh menerapkan cara berpikir logika ini. Logika itu menjawab pertanyaan yang pasti, ya atau  tidak. Logika itu menegaskan bahwa misal,  A itu bukan non A. Maka, tak heran pula jika ilmu-ilmu alam tak luput dari penggunaan logika ini.

Ketiga hal di atas merupakan inti bahasan buku ini. Mater dipahami dengan jalan Dialectica atau Logica. Benda, dialektika dan logika saling berkaitan satu dengan yang lain. Apabila benda tak bisa dipahami dengan dialektika, maka logikalah jalan alternatifnya atau sebaliknya. Namun, tak menutup kemungkinan bahwa hanya salah satu dari dua cara berpikir tersebut yang dapat digunakan. Kombinasi dua senjata berpikir ini bisa saling melengkapi untuk memahami benda, contohnya ini sering digunakan dalam ilmu-ilmu masyarakat.

Madilog sekali lagi merupakan cara berpikir untuk melihat fenomena-fenomena, menjawab persoalan-persoalan atau hal-hal yang perlu dipecahkan/diselesaikan dengan penginderaan atau sesuatu yang bersifat nyata. Artinya, madilog pun memiliki batasannya sendiri. Madilog tidak dapat menjawab atau menyelesaikan persoalan atau hal-hal yang abstrak, misalnya soal Tuhan dan kepercayaan terhadap dewa-dewa dan sejenisnya. Hal ini di luar jamahan madilog, sehingga Tan Malaka menegaskan bahwa tak perlu berkuras peluh atau menghabiskan energi untuk mepersoalkan hal-hal gaib dan sejenisnya ini.

Madilog Tan Malaka ini merupakan karya revolusioner dan persembahan epik buat bangsa Indonesia. Namun, seberapa terkenalkah Tan ini di negeri kita, khususnya bagi kita generasi muda?  Penulis hanya mengira-ngira bahwa sebagian besar generasi ini tidak mengenal siapa Tan Malaka. Tan Malaka adalah salah satu orang penting yang ikut berjuang dalam memperebutkan dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Orang cerdas yang satu ini merupakan buronan berbahaya oleh rezim Belanda. Ia selalu diburu, berganti-ganti identitas, dan bersembunyi di banyak negara. Namun, pelarian dan pengorbanannya bertahun-tahun bagi negeri ini harus bertepuk sebelah tangan. Dia dibungkam oleh sejarah. Tan dibunuh oleh bangsa sendiri, oleh militer Indonesia pada 21 Februari 1949. Sebab Tan dibunuh pun sekadar masalah klasik, yaitu rezim otoriter yang takut kuasanya digulingkan oleh Tan Malaka karena gagasan-gagasan kirinya yang radikal dan tanpa kompromi. Maka penulis tak heran bila Tan kurang terkenal seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sohearto dll sebab namanya tidak kita temukan di buku-buku sejarah yang kita pelajari dulu (silakan pembaca buktikan sendiri). Tapi karyanya-karyanya membuatnya sejajar dengan bapak-bapak bangsa tadi.

Sekali lagi, gagasan-gagasan Tan Malaka dalam buku Madilog ini bertujuan untuk mengajak dan mengubah masyarakat kita agar segera berpindah dari logika mistika ke logika materialisme dan logika dialektika. Ilmu-ilmu alam, makhluk hidup dan masyarakat harus tekun digeluti. Cita-citanya ialah memerdekakan setiap individu yang tertindas, sebab kita masih bodoh atau sengaja dibodohkan sehingga mudah sekali diombang-ambingkan. Dulu kita dijajah oleh bangsa asing, Belanda dan Jepang. Kekayaan alam dan segala makhluk hidup kita diambil buat “perut” dan “kantong” mereka. Namun saat ini, kita dijajah oleh bangsa sendiri dengan bentuk yang berbeda. Ini bisa kita lihat dari orang-orang sebangsa yang kedudukan atau jabatan orang-orang tersebut lebih tinggi dari kita. Kebanyakan dari mereka mengganggap diri mereka cerdas dan bermartabat. Sebut saja bos perusahaan yang kerapkali semena-mena menindas karyawan-karyawan; guru, kepala sekolah, dosen, rektor yang egois dan tamak yang sengaja mengoblok-goblokkan para pelajar; pemerintah sok kuasa yang menghilangkan kemanusiaan rakyat, politisasi agama demi kekuasaan, dan masih banyak lagi. Kebodohan dan pembodohan bukannya dibasmi, malah dikembangbiakkan dan sengaja dibudidayakan demi kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompok mereka.

Terima kasih Tan Malaka. Semoga buah karyamu ini terus dinikmati ibarat buah yang matang di pohon tepat pada waktunya, selain enak pun sehat buat raga. Semoga gagasan-gagasan revolusionernya menggerakkan akal dan nurani kita. Semoga suaramu semakin lantang dari dalam kuburmu.

“Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi!” Tan Malaka.

Featured

65/66

Malam minggu kemarin, seperti biasanya, aku mengunjungi toko buku. Iseng-iseng berburu buku, tapi buku itu sepertinya sudah ditarik dari peredaran atau pun mungkin sudah sold out. Ransel yang ku bawa ku titipkan di penitipan. Aku diberikan kartu bernomor 66. Angka ini mengingatkanku pada …

16 September 2017 lalu, media sedang  gencar-gencarnya meliput pembubaran suatu seminar bertema “Pengungkapan Sejarah 1965/1966” oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Jakarta Pusat (baca).

Menarik bahwa, dari kejadian ini, lahir asumsi, pandangan, opini, wacana yang beraneka ragam. Ada yang mengatakan bahwa seminar tersebut merupakan pelurusan sejarah yang keliru, pengungkapan kebenaran, penyebaran paham komunis, cikal bakal lahirnya PKI dan lain-lain. Tak luput pula bahwa terdapat tuduh menuduh bahwa orang-orang yang terlibat dalam seminar tersebut adalah antek-antek PKI.

Semakin menarik lagi, bahwa ternyata, terdapat massa yang mengatasnamakan ormas agama dan pemuda datang berbondong-bondong dan menuntut paksa untuk membubarkan seminar tersebut. Meskipun fasilitas gedung mengalami kerusakan, untungnya tak memakan korban malam itu (Lihat).

Lalu, kita bertanya. Kenapa? Ada apa dengan tahun 1965/1966?

Aku pun tidak tahu. Tentu pada waktu itu, kita belum lahir. Mungkin, orangtua kita pernah menceritakan pada kita, apa yang terjadi pada waktu itu. Atau mungkin kita pernah membaca pada buku-buku atau referensi-referensi yang ada.

Karena aku tidak tahu persis apa yang terjadi pada 1965/1966, aku pun tak bisa bercerita panjang lebar mengenai sejarah waktu itu. Tetapi yang jelas perlu kita ketahui bersama bahwa negara kita pernah mempunyai masa lalu yang kelam.

Peristiwa tahun 1965/1966 merupakan tragedi kemanusiaan yang terbilang paling banyak menarik perhatian. Persitiwa ini menjadi penting di mana sedang tejadi masa transisi dari Orde Lama (Soekarno) ke Orde Baru (Soeharto). Ditambah lagi, hal ini menjadi amat penting, di mana terdapat banyak penelitian/riset sejarah dan buku-buku yang membahas mengenai sejarah tersebut. Untuk mengetahui cerita di balik 1965/1966, silakan baca buku atau googling sendiri ya :v

Yang menarik perhatianku di sini ialah soal kemanusiaan di balik tragedi tersebut. Di sini terjadi pembantaian, penculikan, penghilangan dan pembunuhan massal. Orang-orang PKI dan yang dituduh (secara paksa) PKI merupakan korban. Jumlah korban jiwa akibat pembantaian tersebut sangat banyak. Diperkirakan 500.000 sampai 1.000.000 dibantai dengan 750.000 orang dipenjarakan atau dibuang. Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965 (YPKP 65) memperkirakan bahwa mungkin bisa terdapat  3.000.000 jiwa korban yang terbunuh pada peristiwa 1965/66. Dan jumlah korban/keluarga korban yang masih hidup sekarang diperkirakan mencapai 20.000.000 jiwa (baca).

Prihatinkah kita? Kalo prihatin, tak takutkah kita kalo mungkin dituduh antek-antek PKI, mengingat tiga huruf tersebut adalah phobia umum dan ibarat borok di masyarakat kita bila mendengarnya?

Terdapat dua film dokumenter apik yang sudah ku tonton, garapan Joshua Oppenheimer, berjudul Jagal dan Senyap. Kedua film tersebut berfokus pada korban pembunuhan/pembantaian yang berkaitan dengan PKI. Film Jagal menceritakan tentang reka ulang adegan para algojo dalam membunuh orang-orang PKI dan yang tertuduh PKI, sedangkan film Senyap menceritakan seorang adik korban yang berusaha melakukan rekonsiliasi dengan para algojo pembunuh kakaknya (korban tertuduh PKI yang dibunuh).

Setelah mengetahui (sangat) sedikit sejarah kelam kita, ditambah melihat film-film di atas, aku merasa sisi kemanusiaan kita sedang diusik. Begitu mudahnya kita saling membunuh. Begitu egoisnya kita menggunakan kekerasan untuk mencari kursi, merebut jabatan, dan memperjuangkan sebuah ideologi sampai mengorbankan orang lain yang tak bersalah. Tanda hati nurani yang tumpul. Aku hanya mau bilang, angka 500.000, 600.000, 1.000.000 atau bahkan 1M sekalipun bukan cuman sekadar angka, tapi ini soal manusia.

 

Featured

Salam Bangga, Anakmu!

18221823_659214947615811_1171590952290646076_n

5 Mei 2017 merupakan hari yang kami (keluarga) tunggu-tunggu. Bapak mengikuti ujian terbuka dalam rangka memperoleh gelar doktoralnya. Puji Tuhan semua berjalan dengan lancar dan dengan hasil sangat memuaskan.

Perjalanan studi Bapak cukup panjang. Kurang lebih 8 tahun Bapak melakukan penelitiannya. Di sela-sela kesibukan dalam keluarga, Gereja, dan kampus tempat ia mengajar, Bapak dapat merampungkan kewajibannya untuk “kuliah” (atau boleh aku sebut dengan “sekolah”). Kesibukan-kesibukan tersebut yang kurang lebih membuat kuliahnya menjadi cukup lama rampungnya. Sejauh pengamatanku prioritas pada keluarga dan orang lain dihidupinya dengan sungguh-sungguh. Tak cukup untuk menguraikan apa-apa saja yang Bapak lakukan. Intinya aku bangga dan berterima kasih karena Bapak sudah menyelesaikan studinya.

Ujian terbuka hari itu merupakan momen yang penting bagiku. Aku menyadari bahwa “keilmuan” begitu sakralnya. Ini ditandai dengan tata ruang yang cukup megah-terstruktur, ritual seperti prosesi masuk dan keluar ruangan yang teratur, pakaian “kebesaran” yang digunakan rektor, para penguji dan Bapak sendiri, serta suasana yang khidmat selama ujian.

Lalu, untuk pertama kalinya aku bersama Ibu menemani Bapak dalam presentasinya di hadapan orang-orang berintelektual itu (dilihat dari gelar-gelar yang mereka peroleh). Saat itu aku dihadapkan dengan realitas, hasil penelitian Bapak yang cukup mencengangkan. Baiknya kuceritakan sedikit tentang penelitiannya itu. Judul disertasi (sudah menjadi sebuah buku) Bapak adalah Termarjinalisasi Kelapa Sawit: Resistensi dan Coping Orang Workwana Papua. Orang Workwana merupakan sebuah objek desa yang diteliti Bapak. Termarjinalisasi Kelapa Sawit di sini secara kasaran berarti proyek kelapa sawit, oleh “yang berkuasa”, secara langsung mengubah tatanan kehidupan orang-orang di desa tersebut dari segala segi kehidupan seperti budaya, sosial, politik dll. Ada unsur penipuan terhadap masyarakat desa tersebut. Mereka sebagai pemilik lahan telah ditipu oleh yang berkuasa tadi. Ini ditandai dengan tidak adanya hasil kerja mereka yang mereka nikmati. Unsur kekerasan dan taruhan nyawa pun merupakan polemik di desa tersebut. Hal-hal tersebut membuat mereka tak lagi peduli lagi dengan urusan kelapa sawit. Yang aku takjubkan adalah meskipun hidup dalam ketidakadilan seperti itu, mereka berusaha untuk melawan nasib. Ada yang membuka kios (berdagang), kembali berburu di hutan, ngojek, jadi PNS, bersekolah, berkuliah dan mama-mama (sebutan bagi ibu-ibu di Papua) berjualan di pasar. Itu yang disebut resistensi dan coping tadi. Aku tergugah dengan perkataan salah seorang korban ketidakdilan yang dikutipkan Bapak “…bagaimanapun kami harus tetap hidup!”

Tak perlu aku jelaskan panjang lebar mengenai hasil penelitian Bapak sebab dapat mengubah esensi oleh penulis sendiri dengan apa yang aku utarakan di sini.

Apa yang dapat dipetik dari momen ini? Bapak bila berdiskusi denganku selalu menekankan untuk melanjutkan studi setelah lulus nanti. Mungkin nadanya terkesan memaksa, tetapi kalau dilihat dari sudut pandang lain, dia ingin menjelaskan bahwa berpendidikan dan berilmu tinggi itu penting. Bapak sendiri sudah membuktikan bahwa ilmu dan pendidikan itu harus berguna bagi orang lain, khususnya masyarakat. Berilmu dan berpendidikan tinggi pun perlu diimbangi dengan karakter yang arif dan berbudi luhur. Ibarat padi, semakin berisi semakin menunduk. Realita kita menunjukkan bahwa banyak orang mempunyai gelar yang bermacam-macam, dan kita mempunyai konsep bahwa banyaknya gelar sebanding dengan tinggi keilmuan (entah itu murni didapatkan dengan kerja keras atau sekadar “instan” membeli ijazah dan gelar). Tetapi tak menutup kemungkinan bahwa orang-orang yang kita sebut sebagai orang-orang intelek dan terhormat karena memiliki banyak gelar, dapat berkarakter busuk (ini dapat kita lihat pada orang-orang berompi oranye dan orang-orang yang masih bermain “petak umpet”). Akibatnya, masyarakat dirugikan dan moral pun rusak.

Begitulah cerita mengenai momen penting ini. Akhir kata, ilmu dan pendidikan yang kita nikmati merupakan alat untuk menghidupi diri sendiri dan orang lain, tak lupa pula demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.

Untuk Bapak, selamat atas segala perjuangan dalam studi-studi selama ini. Tetaplah mengabdi, melayani dan menjadi panutan kami, anak-anakmu. Salam bangga, anakmu!

Menjemput Kematian Bukanlah Solusi

Subuh pagi ini, aku dan temanku menyaksikan sebuah kecelakaan. Kecelakaan antara mobil dan motor tepat di tikungan jalan, di daerah Maguwoharjo. Ibu yang tergeletak di jalan segera kami (dan beberapa orang di situ) menggotongnya dan dibawa oleh penabrak (seorang bapak yang kira-kira masih muda) dengan mobilnya ke RS Hermina. Lalu, orang-orang yang ikut membantu ibu tadi kembali dan menyatakan bahwa ibu tersebut tidak mengalami luka maupun hal-hal yang serius. Syukurlah kejadian itu tak berujung kematian.

Akhir-akhir ini, penggemar musik di seluruh dunia dilanda kabar duka. Siapa sih yang tak mengenal Chester Bennington? Yup, dia salah seorang frontman band Rock Alternative Linkin Park, yang baru menelurkan album anyarnya One More Light (2017). Sang vokalis mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Motif bunuh diri sang legenda pun belum jelas. Dikabarkan pula bahwa Chester mengalami depresi berat akibat masalah keluarga, kecanduan narkoba dan alkohol. Ada juga yang menyatakan bahwa tindakannya itu sebagai bentuk kesetiaan kepada sahabat karibnya, Chris Cornell (salah satu vokalis favoritku juga) yang juga (kabarnya) bunuh diri pada Mei lalu.

chris-cornell-chester-bennington-source-facebook-671x377
Chris Cornell (kiri) dan Chester Bennington (kanan)

Lantas, kejadian-kejadian itu menjadi pertanyaan-pertanyaan yang cukup menggangguku. Apakah jalan kematian seperti itu merupakan solusi? Apakah bunuh diri bisa menjawab permasalahan-permasalahan yang kita hadapi? Seberapa berhargakah hidup itu?

Adalah Albert Camus, seorang filsuf Prancis yang bisa aku gunakan sebagai rujukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Albert_Camus,_gagnant_de_prix_Nobel,_portrait_en_buste,_posé_au_bureau,_faisant_face_à_gauche,_cigarette_de_tabagisme.jpg
Albert Camus

Albert Camus memperkenalkan pada kita dengan absurditas. Apa itu? Dalam esainya, The Myth of Sisyphus (Mitos Sisipus), bisa membantu kita sedikit memahami soal absurditas ini. Dikisahkan seorang raja Korintus bernama Sisiphus menyalahgunakan kekuasannya dengan merampok dan membunuh rakyat serta menipu dewa. Maka, Sisipus dihukum Dewa. Dia harus mendorong batu besar ke puncak gunung. Namun, ketika Sisipus berhasil sampai puncak, batu akan kembali bergulir menuruni gunung. Sisipus harus kembali mendorong batu itu ke puncak. Batu jatuh kembali. Berlaku seterusnya seperti itu.

Hidup pun barangkali seperti itu. Bangun, sarapan, kuliah, bolos, nongkrong, internetan, tidur, ngegame, makan, medsos-an, ngegame, tidur, belajar sistem kebut semalam, dll. Selalu begitu setiap waktu.  Lahirlah rutinitas. Bila kita bertanya, “Mengapa demikian?”, “Untuk apa demikian?” maka timbul suatu kesadaran yang membawa kita pada perasaan sepi, bosan dan rasa yang sia-sia. Inilah absurditas.

Orang kadang berkata, hidup yang berwarna itu hidup yang diliputi masalah. Aku akui meski agak ganjil dengan pernyataan ini, tetapi mungkin ada benarnya juga. Setiap orang pasti memiliki masalah. Di situlah absurditas muncul. Masalah dalam hidup muncul tiada habisnya. Tak kenal waktu dan tempat. Entah itu di rumah, sekolah, kampus, kemarin, hari ini dan besok pun ia ada. Ironis memang. Hal ini pula yang membuat kita kerap menyerah dan pasrah pada kehidupan. Hidup itu sendiri sebuah tragedi bukan?

Camus dalam novelnya, Sampar menceritakan soal bagaimana tragedi kehidupan merupakan sesuatu yang tidak dapat ditolak. Dikisahkan sebuah kota yang diisolasi dari dunia luar, Oran namanya, terjangkiti wabah yang dibawa oleh tikus-tikus mati. Wabah sampar ini menyebar dan segera merenggut nyawa banyak orang hampir seisi kota. Namun ada beberapa tokoh yang sadar dan tetap berjuang untuk mengobati wabah ini hingga menderita epidemi itu sendiri, meskipun mereka tahu bahwa wabah ini tidak akan mutlak hilang.

Di sinilah gagasan Camus soal pemberontakan dilukiskan dalam novel Sampar. Manusia, sebagai makhluk hidup haruslah memberontak terhadap masalah-masalah yang dihadapi. Pemberontakan yang dimaksud bukanlah suatu penolakan terhadap apa yang dialami, tetapi merupakan sebuah tindakan sadar untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Aku pikir rujukan dan uraian pada novel-novel Camus di atas masih terlalu dangkal dan butuh diskusi lebih lanjut terkait filsafatnya. Tetapi bagiku ini sudah cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku tadi. Serumit apapun kehidupan yang kita alami, berontaklah! Toh, banyak tokoh-tokoh terkenal yang tetap hidup meskipun dililiti depresi atas masalah-masalah yang ditanggung, apalagi soal-soal kecanduan narkotika dan sejenisnya. Kita kenal kan dengan Robert Downey Jr? Aktor Amerika yang berperan sebagai Iron-Man (manusia berkostum robot itu loh!) yang juga terlibat kasus narkoba, pecandu alkohol berat, dipenjara namun berhasil lepas-bebas dari itu semua dan sukses meniti karir di dunia hiburan.

Sekali lagi, tindakan mengakhiri hidup, memaksa mati, menjemput kematian, atau bunuh diri bukanlah jawaban, bukan pula solusi! Pram berujar bahwa kita hanya punya keberanian untuk hidup. Kalau tidak punya, apa harga hidup kita?

Sebagai penutup, aku ingin mengutip sebuah pertanyaan reflektif dari seorang Camus ”Should I kill myself or have a cup of coffee?

With honor RIP Chester Bennington and Chris Cornell.

Dari Mana? Cobalah Dari…

DSC_0341.JPG

Sudah seminggu-dua minggu lebih waktuku untuk membaca buku Impian dari Yogyakarta karya Romo Y.B. Mangunwijaya Pr ini. Entah kenapa menarik sekali membaca buku ini. Esai-esai terkait pendidikan yang dikaji oleh Rm. Mangun terasa segar dan masih relevan dengan kondisi pendidikan kita saat ini.

Romo Yusuf Bilyarta (Y.B.) Mangunwijaya Pr lahir di Ambarawa, Jawa Tengah 6 Mei 1929 dan meninggal di Jakarta 10 Februari 1999 serta bermakam di Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta.

mangunwijaya-untuk-kompasiana-58560bf7577b61ee11bf4882

Romo Mangun terkenal sebagai budayawan, novelis, kolumnis, arsitek, pekerja sosial di tepi Kali Code,  prajurit pejuang di wilayah Kedu, dan dosen Fakultas Teknik UGM Yogyakarta dan masih banyak lagi.

Buku Impian dari Yogyakarta merupakan kumpulan esai yang dimuat oleh Kompas. Sebagian esai-esai tersebut menyinggung (mempermasalahkan) tentang pendidikan kita. Meskipun periode tulisan-tulisan tersebut terbilang lampau (1974-1998), tetapi permasalahan yang “diangkat” masih relevan dengan kondisi kita sekarang ini. Dan pembaca dapat menyimak-mengamati serta membandingkan kondisi pendidikan kita seperti apa dulu dan kini.

Ada tulisan Romo Mangun yang (menurut saya) menarik dan menggelitik. Tulisan itu berjudul “Biji Unggul dan Tanah Tumbuh”. Saya kutipkan tulisan tersebut di bawah ini.

Politik Pengajaran pendidikan Belanda memang kolonial. Tetapi kita jangan main hitam-putih. Banyak hikmahnya.

+          Itu lho Pak, yang kami tidak mudeng. Pak Dirman, Pak Harto, Adisucipto, Haris Nasution, Bung Tomo dan banyak lagi pemimpin Revolusi 45, kan ketika itu belum berumur 30 tahun. Slamet Riyadi, Soedjatmoko baru 22 tahun. Bahkan banyak yang masih SMA atau STM dan tamatan SD, kok mereka sudah bisa jadi panglima tertinggi, diplomat, gubernur-militer, itu dari mana. Apa generasi dulu itu memang lebih pandai dari generasi Bebek-Honda sekarang ini?

=       Ah ya tidak! Bahkan dalam beberapa hal kalian jauh lebih mahir daripada kami dulu. (Nah, soal menghapalkan, bukan.) Antara lain. (Deklamasi dan main gitar, ya ta?) Antara lain. (Merias diri). Itu juga. Kan baik punya bangsa yang tampan dan cantik. (Tsj. Tapi malu. Merasa goblog tambah minder).

=       Jangan! Merasa diri masih kurang itu baik, tetapi jangan minder. (Tapi kurang kami ini keterlaluan.) Kekurangan generasi kami dulu juga banyak. (Apa sekolah yang salah?) Sebagian. Seluruh iklim masyarakat sekarang memang tidak menguntungkan untuk menjadi manusia cerdas. Kuli pintar memang, tetapi cerdas berkarakter tinggi? Tidak hanya di sini. (Di Luar-Negeri juga?) Rupa-rupanya ya, kalau kita boleh mempercayai ahli-ahli antropologi di sana.

+       Tetapi itu bukan alasan kita boleh membodohkan diri.

=       Jelas tidak. Apalagi mengingat kita masih ketinggalan banyak sekali.

+       Apa yang kurang pada cara kita bersekolah Pak?

=       Perihal menyanyi, menari, main musik, main drama, mendalang, melawak, pendek kata perihal EKSpresi, memang kalian hebat. (Ah sudah tahu. Yang kurang apa.) Jiwa olahraga juga sudah jauh lebih bagus dari generasi kami dulu. Hanya jangan lupa, Bapak dulu banyak olahraga mencangkul di ladang, menimba air untuk nenekmu dan berjalan jauh kalau harus pergi ke sekolah, setiap hari berjalan 10 KM. (o ya?) Betul. Dulu penuh prihatin masa muda kami. Tetapi itu tidak perlu terulang pada kalian. (Bapak cuma memuji. Sekarang apa yang kurang.) Menghapalkan kali juga juara dunia (Waduh, meledek) dan seni meniru, ini juga Mister dan Miss Universe. (Awas lho Pak, nanti selimut Bapak saya kasih satu batalyon kutu yang modelnya seperti kulit salak itu.) Hahahaa…

+       Bagaimana itu orang-orang Belanda mengajar anak-anak pribumi? Kalau kami baca tulisan-tulisan Bung Karno, Hatta, Sjahrir dan lain-lain ketika mereka masih umur dua-puluhan, apalagi Kartini yang cuma tamatan SD, aduh heran kami tidak habis-habis bagaimana mereka dapat berpikir begitu dewasa, begitu teratur, nalar cemerlang dan perasaan berbahasa elegan, sungguh teka-teki. Juga angota-anggota KNIP dulu dan orang-orang partai kan masih muda-muda, itu dari mana? (Ya, mereka bagaimana pun orang-orang istimewa). Ah, tentu saja. Tetapi walaupun istimewa kan pasti itu hasil sistem sekolah dulu.

=       Saya sendiri juga tidak tahu. Tetapi di SD dulu kami memang dipaksa untuk berpikir. Pertama soal bahasa. Kami harus belajar bahasa Belanda dengan sungguh-sungguh. Kolonial memang. Tetapi itu alat juga yang memperluas cakrawala kami. Kami dulu dalam tempurung pribumi yang memang aman dan tenteram, segala-galanya harmonis, akan tetapi terbatas. Dengan bahasa asing di tangan, kunci dunia-luar seperti telah terpegang. Itu ada ruginya juga, merasa sombong, mudah terasing dari kebudayaan pribumi. Tetapi rasanya dari naik kerbau lalu naik mobil. Soalnya sekarang hanya, bagaimana membuat keseimbangan dan penjagaan identitas. Tetapi itu persoalan orang dewasa. Bagi anak tahunya hanya: senang, hebat, gempar. Apalagi kalau mijnheer Guru sudah mulai vertellen, cerita tentang cakrawala-cakrawala dan negeri-negeri jauh. Melompong.

Tetapi kami murid-murid kecil mungil sudah dini-pagi harus mengerahkan nalar dan daya analisa kami. Setiap minggu kami harus juga vertellen voor de klas, bercerita di muka kelas. Wah, itu tugas berat. Public Speaking istilah sekarang. Dan juga: een opstelletje maken (Apa itu?) membuat karangan kecil. (Sudah dididik jadi wartawan?) O iya, bahkan tidak kepalang tanggung, pada hakikatnya membuat semacam skripsi ilmiah; dalam bentuk mini tentu saja. (Tentang apa?) Tentang macam-macam, tetapi tema selalu konkret. Misalnya: Pergi ke Pasar. Atau: Pencopet di Pecinan. Melihat Pasar Malam. Pergi Liburan. Atau juga: Menolong Ibu, Adikku Sakit. Ada Mobil Datang, ya kejadian-kejadian konkret. Jelaslah apa tujuannya; anak dipaksa belajar observasi, atau istilah sekarang, mengumpulkan DATA. Data observasi si anak itu tidak semua diceritakan. Guru membina, bagaimana menyusun data itu secara sistematis. Langkah selanjutnya nanti, si anak dibina untuk menganalisa segala datanya itu. Secara anak-anak tentu saja. Dan kalau sudah maju, lalu si anak disuruh mengeluarkan pendapat pribadinya. Maka setiap kali Mijnheer mengecek: Ini yang mengatakan bapakmu, abangmu, gurumu atau pendapatmu sendiri? Celaka kalau ternyata si siswa hanya membeo menjiplak pendapat orang lain. Dicaci maki dipermalukan sungguh. Soal menjiplak, menyontek, wah itu dosa besar. Pendidikan Minjheer dulu selalu: Lebih baik ksatria berkata: “Kali ini saya tidak tahu jawabannya,” daripada menyontek dan membeo.

+       Apa dulu tidak diajar menghapalkan?

=       O ya. Bahkan diberi sistem menghapalkan itu. Tetapi itu memang celaka jika diketahui kita hapal sesuatu tetapi tidak tahu apa yang dihapalkan itu. Pelajar membaca misalnya. Sesudah dua tiga kalimat dibaca, mijnheer bertanya tentang isi kalimat-kalimat yang dibaca itu. Lalu sedikit diskusi begitu juga dalam pelajaran ilmu bumi, ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu sejarah dan lain-lain.

+       Dulu pelajaran sejarah yang diajarkan apa, Pak?

=       Wah, terang sejarah model kolonial. Mau apa. Memang dalam soal ini kami dulu salah asuhan. Tetapi kolonial tidak kolonial, yang diajarkan minjheer betul-betul logika peristiwa. Jadi tidak cuma main hapalan kejadian-kejadian saja tanpa tahu sangkut pautnya. Terutama konteks dengan kejadian-kejadian di benua-benua lain sangat menolong untuk sedikit memahami, apa arti sejarah, bersejarah, menyejarah.

+       Tokoh-tokoh siapa yang oleh Belanda diajukan sebagai contoh? Jelas bukan Diponegoro.

=       Ya, jelas bukan Diponegoro. Banyak yang diputar balik. Tetapi Raden Wijaya misalnya, yang mengusir tentara Kublai Khan, nah tentang beliau kami juga diajari secara positif. Juga Gajah Mada, karena maklumlah orang Belanda pengagum orang-orang pemberani yang menjelajahi samudera-samudera. Tetapi tentunya jangan mengharap pengajaran dulu membina kami untuk mejadi perintis kemerdekaan. Hanya perintis, titik. Tetapi itu sudah cukup untuk kelak dibuahi dengan semangat kemerdekaan.

+       Katanya orang Belanda itu tidak suka orang pribumi menjadi pandai.

=       Ya, memang dari segi politik resminya. Tetapi sikap guru-guru sebagai pribadi dulu oh tidak begitu. Kami dulu punya jam yang paling kami senangi, selain Vertellen, yakni jam Vragenbus (Apa itu?) Kotak-pertanyaan. Selama satu minggu para murid disuruh mengajukan pertanyaan atau perkara yang ditemui di luar sekolah tetapi tidak mudeng. Entah karena membaca sesuatu dari koran, atau membaca papan di toko, atau pengumuman di stasiun, atau mendengar orang dewasa omong ini-itu tetapi tidak menangkap artinya pokoknya apa sajalah silakan tanya. Pertanyaan itu (ini termasuk sistem pembinaan) harus ditulis di atas secarik kertas, lalu dimasukkan dalam Vragenbus. Nah pada hari Sabtu siang, kalau anak-anak sudah mengantuk dan suasana sudah ingin berlibur Minggu, Minjheer membuka kotak pertanyaan itu. Dibaca satu per satu, wah ya sering geli mendengar pertanyaan yang aneh-aneh itu. Tetapi justru itu yang dimaksud. Sebab kalau murid ketawa dan gembira apalagi penuh tegangan mendengar jawaban, nah, pendidikan blung masuk, gitu.Yakni pendidikan serba bertanya. Kelak saya baru tahu, apa arti sikap bertanya itu dalam perkembangan peradaban bangsa manusia, dalam proses ilmu pengetahuan, teknologi dan sejarah tata-masyarakat. Bertanya… bertanya. Pertanyaan yang cerdas dan benar ternyata jauh lebih penting dan menentukan kemajuan manusia daripada menjawab sembarang pertanyaan.

Nah, ini mijnheer membina kami. Beliau selalu mengajar: Een idioot kan meer vragen dan een wijs man beantwoorden. (Wah, apa itu?) “Seorang gila dapat mengajukan lebih banyak pertanyaan dari yang dapat dijawab oleh seorang arif.” (Hahahaaa!) Tetapi juga ini: Maar een verstandige vraag van een wijze kan onderd idioten wijs makan. (Wah, apalagi itu?) “Tetapi suatu pertanyaan cerdas seorang arifin dapat membuat bijak seratus orang gila.” (Hahahaa! Tetapi, bagaimana bila yang gila itu generasi muda?) Jawab sendiri. Kalian yang berhak menjawabnya. Yang jelas, sampai meninggal, Einstein yang begitu genial, toh masih bertanya dan bertanya, dan pertanyaannya satu itu belum dapat ia jawab; dan juga belum dapat dijawab oleh ahli seluruh dunia. Tetapi tak mengapa, manusia yang mampu menanyakan pertanyaan yang sudah benar, itulah orang yang sudah memiliki kunci penjawabannya.

+       Wah, lha kami ini bertanya saja belum mampu. Kalau dosen bertanya: Siapa yang punya pertanyaan? Kami melompong seribu bahasa.

=       Memang itu harus dimulai di SD. Juga kegemaran membaca. Sebab membaca pada inti hakikatnya ialah: ingin dikili-kili oleh suatu pertanyaan yang cerdas, tepat dan benar.

***

+       BAGAIMANAPUN, terus terang, toh pendidikan Belanda itu gagal, Pak. Nyatanya murid-murid mereka akhirnya merintis dan mencapai kemerdekaan, lepas dari mereka. Bukankah itu kegagalan dari pihak mereka?

=       Boleh, boleh dilihat begitu. Tetapi dianggap sukses akan bisa juga. Bukankah kebanggaan setiap guru, melihat murid-muridnya menjadi dewasa lalu berdikari? Bahkan melebihi gurunya?

+       Ya, tetapi apa mereka merasakannya demikian? Belanda kan kecewa kita merdeka.

=       Memang itu tragedi sejarah antara Indonesia dan Belanda dulu. Mereka yang mengajarkan metode berpikir bersih, bernalar tajam, observasi, analisa, menilai rasional, akhirnya gagal dalam menganalisa dan menilai Revolusi Indonesia.

+       Jangan-jangan kami juga berbuat begitu, Pak. Generasi kami ini kaum riset, tukang seminar dan lokakarya, penataran dan upgrading tentang macam-macam hal mengenai bangsa kita sendiri. Tetapi jangan-jangan kami pun gagal menganalisa dan menilai apa yang sebenarnya hidup di kalangan rakyat kita sendiri. Jika kami merenungkan ketidak-tahuan kami, ketidak-siapan kami, padahal persoalan semakin menggunung, rasanya hanya ingin frustrasi saja.

=       Kaum muda tidak boleh frustrasi, apalagi yang terpelajar.

+       Habis, kalau memang banyak alasan sah untuk frustrasi, minder, jengkel, memberontak?

=       Justru itu tanda, alat monitor hati nurani kalian masih belum rusak. Yang malapetaka itu bila generasi muda dalam situasi seperti ini lalu justru bahkan mabuk-mabukan melampiaskan kejayaan palsu, memperkosa gadis rakyat kecil, pongah ngebut menderu-deru menghamburkan debu penuh baksil kepada para pedagang kecil dan anak-anak tak berdosa di kaki lima; bila membusung dada merasa jangan pamer baju dan sepatu, kaset-telinga serta jaket mahasiswa yang memukul harga diri pemuda-pemudi miskin yang tak mampu sekolah, hanya karena miskin; bila kalian menyombongkan kekayaan dan pangkat ayah-ibu kalian, padahal setiap orang tahu mereka bisa begitu karena korupsi dan penikmatan struktur-struktur yang tidak adil, dan macam itu.

+       Tetapi apa yang saya salah bila menggugat kaum tua dan pemerintah untuk keadaan seperti ini?

=       Siapa yang berhak mempersalahkan kalian. Tetapi itu jalan yang paling murah. Ada jalan yang lebih baik, dan yang juga sudah dijalankan oleh generasi Soekarno-Hatta dalam situasi yang tidak kalah sulit dengan situasi sekarang. Yakni, tidak selalu menengadah ke atas dan mengeritik raja-raja serta ningrat-ningrat yang menjual bangsa, tetapi turba ke bawah, menghimpun kawan-kawan secita-cita yang jujur dan intelijen, baik di kalangan swasta maupun pemerintahan, di mana pun, lalu merintis sendiri dalam banyak lubang kesempatan yang masih tersedia. Itu jika kalian jeli.

Tetapi lubang-lubang kesempatan itu memang harus kau cari sendiri, tidak pernah hadiah gratis. Beranikah kalian meninggalkan jaket-priyayi-kemahasiswaan di luar kampus untuk membaur dan menemani pemuda-pemudi saudara-saudarimu sendiri yang tidak berkesempatan bersekolah hanya karena mereka tak berduit? Tidak sebagai pemimpin besar, tetapi sahabat setia? Seperti yang dikerjakan oleh perintis di Rusia dan RRC? Yang sudah ABC menolong yang baru tahu AB dan yang tahu AB menolong yang baru tahu A? Bahkan anak-anak SD mengajar bapak-ibu-nenek agar melek huruf?

+       Uaaa, itu nanti dicap New Left. Celakanya PKI malam. Mengikuti pola Marx.

=       Itu bukan New Left bukan Marx. Itu pola nenek-moyang kita sejak zaman Mpu Senduk yang sudah teruji, dan pola setiap bangsa yang cerdas. Di Eropa dan AS dulu juga begitu. Memang celaka menghadapi orang-orang bodoh yang gampangan obral dengan senjata tumpul melawan hantu kiri New Left. Nggak mudeng, bahkan manusia utuh itu punya tangan-kaki dan paru-paru kanan dan kiri, mata-telinga, bahkan otak yang kanan dan kiri.

+       Ya, tetapi mendidik dari bawah itu kan jalan yang terlalu panjang terlalu lama. Perbaikan melalui kritik terhadap pemerintah kan jalan-pintas yang cepat.

=       Silakan kalau mampu. Tetapi jalan pintas itu tidak ada dalam perkembangan manusia yang dibuat dari daging-darah dan penuh dengan praduga dan warisan mental tradisional berabad-abad. Dalam dunia tetumbuhan dan hewan pun juga tidak ada jalan pintas. Yang ada hanya: pematangan buah, pematangan lahan.

+       Tetapi kita kan dapat mempercepat pematangan buah itu.

=       Nah, itu bisa dan diharapkan dari kalian.

+       Wah… gimana ya. Kami sudah lemas. Angkat tangan deh. Mengurus diri sendiri aje belum bisa, kok disuruh ngurusin orang lain. Kalian yang tua sajalah, kami masih bodoh.

=       Hahahaa, ya sudah, mau apa. Memang bukan hanya salah kalian. Tetapi mbok ya jajal, dari sedikit. Tidak usah menggebu-gebu, tetapi step by step. Soalnya sih kau ini anak dari ayah-ibumu. (Lha siapa yang menyuruh!) Ha ha haaa, ya sudah,Tuhan yang salah. Paling gampang. Cuma, mbok ya kalian ini mau belajar dari rakyat kecil itu lho. Dari zaman Demak mereka menderita dan menderita, tetapi tidak pernah frustrasi.

Coba, kadang-kadang membolos sajalah dari kuliah dan amat-amatilah orang-orang kecil itu, kuli-kuli gadis-gadis itu, penjual minyak dan es, bahkan penjual rosokan ekologi di kaki lima, pemungut puntung-puntung Roro-Mendut, apa you tidak mau? Mereka berani dan tabah mempertahankan hidup, artinya resolusi memihak kepada kehidupan dan harapan pada hari-depan; paling tidak bagi anak-anak mereka. Diam tanpa banyak teori profesor. Babu-babu yang dianiaya tuan-nyonya sadis, bahkan pelacur-pelacur murahan yang bersusah-payah agar kelihatan sedikit cantik dalam kegelapan malam sepi, itulah seharusnya profesor-profesormu perihal keyakinan, bahwa hidup adalah anugerah yang sekaligus harus diolah, diperjuangkan mati-matian.

+       Kami bisa berbuat apa… kami sendiri sering korup juga dan sadis.

=       Mosok semua sudah korup dan sadis. Pernah baca Max Havelaar apa belum? Kau tahu, di zaman Belanda sekali pun Max Havelaar menjadi bacaan wajib untuk sekolah menengah-atas jurusan budaya. Kau harus bersyukur punya H.B. Jassin yang sudah menerjemahkannya secara serius. Mengapa sekarang bukan bacaan wajib lagi? Malu? Takut? Perintis-perintis kemerdekaan kita dulu banyak belajar dari Max Havelaar yang sendirian dan penuh pengorbanan pribadi menantang dunia kolonial yang korup. Korup Belanda, korup Pribumi setalitigawang. Padahal penulisnya Douwes Dekker sendiri orang Belanda.

+       Ya, itu kan zaman dulu. Sekarang sikonnya sudah lain. Dulu gampang, sekarang soalnya lebih sulit.

=       Itu omongan orang bodoh. Zaman dulu juga sangat sulit sikonnya. Setiap zaman setiap generasi punya kesulitan masing-masing, tetapi juga modal yang sepadan untuk mengatasi kesulitannya sendiri. Yang lain itu cuma bajunya. Tetapi hakikat permasalahannya masih sama. Proses sejarah tidak menghitung dengan dasawarsa tetapi dengan abad. (Wah, celaka!) Tidak celaka. Normal itu. Makanya, kalian sebagai anak modern mbok kadang-kadang mau mempelajari foto Rontgen, jangan cuma menghibur diri dengan foto Colour belaka.

+       Tsy, mau apa ya? Belum tahu harus apa…

=       Nggak apa-apa kau belum tahu persis harus berbuat apa. Tetapi yang penting sikapmu dulu. Kau berdiri di pihak mana. Di pihak arus korup yang terus menerus melumpuhkan segala-gala ini, atau di pihak gerakan perintis-perintis segala zaman yang jujur?

+       Ya, di pihak jalur… maunya. Tetapi mulai dari mana…

=       Dari mana? Cobalah dari…

***

Dan begitulah dialog dua orang (tanpa nama) itu. Bagaimana, lelah karena membaca percakapan yang panjang itu? Atau kadang-kadang sedikit menggelitik dan menyinggung nurani kita barangkali? Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran menuliskan, “hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka”.

Mari, kita menertawakan diri (sebagai korban pendidikan masa kini kalo boleh dianggap benar begitu) sembari berkaca diri dan berefleksi, “Dari mana? Cobalah dari…”

Note:

Biji Unggul dan Tanah-Tumbuh terbit pada Kompas, 20 Agustus 1982. Artikel tersebut dapat dibaca pada halaman 66-75 dalam buku Impian dari Yogyakarta.