Featured

Diskusi Buku Kejahatan dan Hukuman Fyodor Dostoyevsky

Sore tadi aku balik ke Jogja. Di sela-sela kesibukan dan kepenatan, bagiku rumah dan buku bisa jadi obatnya.

Aku tiba di Toga Mas, Afandi Gejayan. Hendak mencari buku yang aku inginkan, tapi ternyata telah habis terjual. Lalu aku ingat, di lantai atas, ada diskusi buku seorang pengarang Rusia ternama, Fyodor Dostoyevsky. Naiklah aku ke atas.

Diskusi ini dibawakan oleh dua orang pembicara, yaitu Mas Dika dan Pak Soesilo Toer. Jujur saja, aku tidak menaruh perhatian terhadap si Dostoyevsky ini. Membaca novel-novelnya pun aku tidak pernah. Justru aku menaruh perhatian penuh terhadap Pak Soesilo ini. Kenapa? Karena dia adik kandung Sastrawan terhebat Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Aku mengenal Pak Soesilo ini dari membaca ulasan-ulasan tentangnya di internet dan menonton di YouTube. Dia sudah banyak menulis buku tentang kakaknya itu.

Sesi tanya jawab berlangsung, dan aku mendapatkan kesempatan menjadi penanya terakhir. Sesi tanya jawab aku kutipkan di bawah ini:

Rezki: Selamat malam semua. Perkenalkan saya Rezki dari Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Saya ingin bertanya kepada Mas Dika dan Pak Soesilo. Sebenarnya apa yang menarik dari novel-novelnya Dostoyevsky? Lalu yang kedua kepada Pak Soesilo, kalo saya nonton di YouTube, Pak Soesilo itu lulusan dari universitas di Rusia. Dan sekarang bekerja sebagai pemulung. Kenapa nggak ada keinginan untuk mengajar aja di Indonesia? Yang ketiga, apa syarat menjadi penerima nobel sastra?

Pak Soesilo: Saya sebenarnya kurang suka karena di sana masih ada aturan atau larangan dari pemerintah untuk membaca buku-buku Dostoyevsky. Karena itu sangat muram bagi masyarakat sosialis. Masyarakat … sukanya yang positif, yang bagus. Jadi waktu saya di sana itu masih dilarang. Tapi saya punya pacar yang gemar membaca buku-buku itu. Tapi yang paling menarik buat saya itu beda dengan yang diceritakan orang, misalnya Kejahatan dan Hukuman itu. Saya lebih senang baca buku Gorky atau Saya lebih senang lagi baca bukunya (namanya gak inget) Karena itu sifatnya berbau porno (pada ketawa semua wkwk). Saya juga lebih suka itu ada penulis yang namanya (namanya gak inget), itu kayak lelucon aja. Jadi suatu kali dia jadi penumpang. Tangannya itu masuk ke kantongnya salah satu mahasiswa. Lalu ada orang yang liat, oh dia ternyata copet. Jadi dia dipukuli di stasiun karena dianggap tukang copet. Lalu mahasiswa itu rogoh kantong celananya, tahu-tahu ada duitnya. Padahal si mahasiswa itu lagi gak punya duit. Ternyata si … merupakan filantrop. Tahu filantrop? Filantrop itu orang yang suka bagi-bagi uang kepada mahasiswa yang miskin itu dengan cara memasukan duit ke kantongnya. Itu sangat menarik ceritanya. Itu kayak abunawasnya 1001 malam, atau Dunia Samin. Jadi membaca atau menikmati karya orang lain itu sesuai dengan watak mental dari si manusia itu sendiri. Nggak bisa dipaksakan itu. Orang menyebutkan bukunya Pram hebat, ada juga yang bilang bukunya Pram itu sampah. Itu semua saya denger. Baca aja buku saya, Pram Dalam Tungku. Kita bisa melihat kayak apa Pram itu. Jadi menilai seorang penulis itu sesuai dengan watak dan sifatnya sendiri. Tidak sama. Saya dipaksain untuk mencintai Dostoyevsky pun saya tidak bisa. Walapun saya seorang realisme sosial. Itu mas jawaban saya.

(Lanjutan pertanyaan kedua) Gini mas. Saya pemulung itu sudah, merupakan hakikat hidup saya seperti kata …(namanya gak inget) “Anda bukan manusia kalau belum menemukan hakikat kehidupan anda. Anda masih setengah binatang atau bukan manusia”. Itu saya dapat kesdaran dari situ. Nah, saya memulung itu menciptakan nilai lebih, nilai tambah. Tapi karena saya seorang ekonom, saya menyebutkan dengan istilah saya, menciptakan nilai lebih yang absolut. Itu barang yang tidak ada gunanya saya kumpulkan, laku dan memberi hidup pada orang lain. Kalo petani, buruh itu tergantung pada cuaca. Misalnya petani bergantung pada ada hama atau tidak. Itu menciptakan nilai lebih tapi relatif. Misalnya lagi buruh tergantung sama majikan, seberapa dia dibayar. Kalo pemulung itu tergantung pada kegiatan kerja seseorang. Cuma secara ekonomi indikasinya makin banyak pemulung berarti makin rusak Negeri ini. Karena ternyata sudah 75 tahun, Indonesia itu negara primer saja belum bisa. Tahu kan maksudnya negara primer? Negara harus bisa menucukupi makanan minuman pakaian dan perumahan. Itu yang namanya negara primer. Ada yang sudah berlebihan. Tapi yang berantakan di pinggir jalan masih jutaan orang. Apalagi para sarjana, hampir satu juta sarjana menganggur. Saya kalo ditawarin jadi dosen saya nggak mau. Enakan jadi pemulung. Saya hidup bukan dari ijazah. Saya hidup dari kerja. Itu jawaban saya. Jadi itu sudah pilihan dan tidak bisa dipisahkan. Itu nikmat buat saya. Bukan mentri yang memberi kenikmatan bagi saya. Saya adalah seorang Islam yang disebut “Islam Abang”. Saya tidak sembayang. Tapi saya semedi dengan bahasa yang …(lupa). Kalo saya lagi khusyuk begitu, semedi, itu rasanya senikmat kalo saya lagi senggama(ketawa). Jadi memulung itu sudah nggak bisa lagi dipisahkan dari saya. Kecuali nanti sudah kehilangan fungsi. Tapi sampai sekarang alhamdullilah saya masih tetap punya fungsi, terutama fungsi sebagai laki-laki (ketawa lagi).

Mas Dika: Menarik kalo kita dengar cerita dari Pak Soes. Cuman Saya, begini Pak Seos. Agak unik Saya melihat nihilis, sufistik, ada kesamaan. Ini orang-orang yang gila dan menakjubkan. Maka tadi kalo masnya nanya apa yang menarik dari Dostoyevsky Saya pikir, karena minat baca orang Indonesia itu rendah, jangankan membaca novel, baca kitab suci saja pun Kita masih malas. Jawaban saya adalah selain kitab suci, di dunia ini yang Kita harus miliki adalah novel. Terutama novel Dostoyevsky, Leo Tolstoy, dan Ivan Turgenev. Dibandingkan ketiga it saya lebih suka membaca Tolstoy dan Turgenev. Karena saya juga tertarik ide-ide sufistik. Saya tertarik pada paham anarkisme sufistik. Kalo Tolstoy adalah anarkisme Kristen, kalo saya mungkin saya rubah saya anarkime Islam yang sufistik. Penting anda punya ini (sambil ngangkat bukunya Dostoyevsky, Kejahatan dan Hukuman), karena ini bukan karya fiksi biasa. Ini semacam buku pegangan psikologi. Kalo anda jurusan psikologi, saya menyarankan anda punya ini. Jadi kalo ada buku-buku teori tentang psikologi yang umum, itu basi menurutku. Kita harus punya ini. Biar anda punya wawasan yang luas. Biar anda punya referensi watak manusia yang kaya seperti tokoh-tokoh dalam novel ini. Saya pikir itu saja.

Pertanyaan ketigaku gak dijawab karena waktu diskusi udah habis ha-ha.

Maksudku menuliskan isi percakapan di atas ialah mungkin ada sesuatu yang menarik dari diskusi ini. Maaf kalo tidak mendetil dan banyak cacatnya. Tentu ini merupakan hak bagi siapapun yang membaca ini, apakah berguna baginya atau tidak. Bagiku malam diskusi ini cukup berkesan.

Untuk mengenal lebih jauh Dostoyevsky mungkin bisa kunjungi link ini: https://suluhpergerakan.org/mengenal-dostoyevsky-menyelami-sanubari-manusia/

Yang mau mengenal lebih jauh Bung Soesilo bisa kunjungi link ini: – https://m.kumparan.com/@kumparannews/kisah-soes-toer-adik-pramoedya-ananta-toer-yang-kini-jadi-pemulung

Advertisements
Featured

Penebusan Seorang Perempuan

DSC_0062Hari sudah sore. Jalanan tanpa aspal ini tampak sepi. Aku menyusuri jalan ini dengan mobil. Sudah terlihat di sana batas kampung dan kota. Seketika itu juga, pikiranku terbawa ke dalam batas masa lalu dan masa kini.

Bekerja sebagai guru honorer tentu tidak menyenangkan. Itu terutama berlaku bagi sebagian lulusan jurusan pendidikan seperti aku. Jadwal yang padat hari namun dompet yang tak padat gaji. Ini keluhan sesama guru. Aku sendiri tidak terlalu peduli akan hal itu.

Hari Sabtu adalah hari yang dinanti-nanti banyak orang. Hari yang menandai berakhirnya rutinitas. Aku menunggu dengan perasaan senang.
Setelah membuat sarapan untuk adikku yang bungsu, kami berangkat bersama ke sekolah. Dia meminta uang jajan, dan aku memberinya tiga ribu rupiah. Menurutku uang itu cukup untuk anak sekecil itu. Aku pun melaju mengejar jadwal mengajar bahasa Inggris di kelasku.

SMS masuk ke hp-ku. Pesan singkat itu berbunyi “Ku tunggu di depan perhentian angkot biasanya.” Hatiku berdegup membacanya. Tapi sejujurnya aku sangat menantikannya.

Setelah merapikan bahan ajar, aku bergegas ke rumah. Rumah masih sepi. Aku memasak sebentar untuk makan malam Papa, Mama dan adik-adikku. Setelah itu aku menuju tempat yang dijanjikannya.

Dia sudah menunggu cukup lama. Aku minta maaf karena agak terlambat. Dia memaklumi lalu kami beranjak dari tempat itu.

Kami bercakap-cakap dan melempar-tangkap gombalan dua orang yang sedang jatuh cinta sepanjang jalan. Kota yang padat orang-orangnya dan cerah lampu bangunan-bangunan yang menyilaukan seakan-akan menyuruh kami tuk segera pulang, meskipun saat itu sedang ramai-ramainya.

Aku diantarkannya hingga tiba di sebuah rumah sederhana. Baru ku ketahui itu adalah rumahnya. Kami berdua masuk. Aku duduk pada sebuah sofa empuk di ruang tamu. Dia menyeduhkan cokelat panas yang kusukai. Aku meneguknya sekali, lalu dia bertanya, “Apakah kamu ingin aku menghabiskan malam yang manis bersamamu seperti manis cokelat yang kamu minum itu?” Aku agak gugup dan cemas. Tanganku didekap dalam genggamannya. Dia mendekatkan  kepalanya pada daun telingaku membisikan rayuan. Aku hanyut dibuatnya. Hatiku berhasil diambilnya. Tubuhku menjadi miliknya. Manis dan mendebarkan, takut dan cemas,  itulah kesimpulanku sebagai penutup malam kami berdua.

Pukul 10 pagi aku tiba di rumah. Keluargaku mengira aku pulang dari gereja. Semuanya nampak biasa saja. Aku langsung membantu Mama memasak untuk makan siang. Hari berlalu begitu saja.

Minggu-minggu berlalu sejak malam itu. Aku sering sekali pusing dan mual-mual. Aku memutuskan untuk mengambil cuti karena kondisi tubuhku tidak memungkinkan untuk mengajar di sekolah.

Pada akhirnya kebenaran pun terungkap. Test pack yang diberikan Mama menunjukkan kebenaran itu.
Hari itu seperti hari terakhir dalam hidupku. Sore yang tak lama lagi berganti malam semakin meremukkan hati. Aku menangis. Setelah telapak tangan Mama mendarat di pipiku, ia menangis penuh kecewa. Papa yang baru saja pulang dari kantor mendengarkan penjelasan dari Mama. Papa pun menangis dan memelukku sangat erat. Disusul Mama, kami semua mengucurkan air mata sederas-derasnya, lalu berdoa.

Pacarku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Abangku sudah tiba di rumah. Papa dan abang  memutar otak untuk memikirkan hal ini. Abang meminta nomor hp pacarku. Dia menghubunginya berkali-kali tetapi sia-sia saja. Aku bilang padanya bahwa dia bekerja di kepolisian kota. Mereka berdua segera ke sana.

Pukul 2 pagi mereka balik ke rumah. Papa dan abang kembali dengan tangan hampa. Kepala polisi kantor kota mengatakan bahwa dia sudah dipindah-tugaskan ke kota lain. Rumahnya pun kosong tak berpenghuni. Informasi mengenai keluarga atau kerabatnya sulit sekali untuk didapat. Dia benar-benar pmenghilang seperti ditelan bumi.

Buah hatiku lahir ke dunia dengan selamat. Sesaat kami bergembira akan hal ini. Namun, hatiku tetap tersayat karena dia terlahir tanpa ayah.

Adikku yang bungsu masuk ke kamar setelah pulang bersepeda sore. Dia bertanya pada Mama dengan polosnya “Siapa anak itu, Ma?” Mama menjawab “Dia adikmu.” Adikku menanyakan namanya. Mama memberitahukannya dan bilang padanya bahwa namanya memiliki arti hujan perasaan. “Agar adikmu menjadi pemberi kasih dan cinta yang sejati,” tambahku. Adikku tampak bingung. Setelah dia menyapa anakku dan mencium keningku, dia menaruh sebungkus cokelat di sampingku lalu keluar dari kamar.

Setelah mengikuti sertifikasi Pegawai Negeri Sipil, aku akan ditempatkan di sebuah sekolah menengah pertama yang berada pada sebuah kampung yang tidak terjamah, bagian paling selatan pulau ini. Aku menitipkan anakku pada Papa dan Mama. Umurnya baru 3 tahun ketika itu. Maka, aku meninggalkan rumah, keluarga dan anakku yang tercinta demi panggilan tugas yang baru ini.

Rupanya hidupku tidak hancur berkeping-keping seperti yang pernah ku bayangkan sebelumnya.

Kini aku sudah berkeluarga. Suamiku baik padaku. Aku mendapatkan anak perempuan yang manis darinya. Aku mempunyai dua buah hati yang selalu menjadi penyemangatku dalam menjalani hidup ini.

Lingkungan baru dan sekolah tempat aku mengajar sangatlah menarik, damai dan penuh keramahan pada setiap wajah penduduknya. Kampung ini tidak memiliki listrik yang cukup dalam 24 jam sehari, tetapi tidak cukup menjadi alasan agar aku tidak menyukai tempat ini. Kebersamaan antarpenduduk sangatlah kental. Aku sering sekali diundang tuk makan bersama orangtua muridku. Sering sekali murid-muridku datang ke rumah papanku untuk belajar. Meski hanya bercahayakan lilin atau lentera, mereka tetap bersemangat dalam melafalkan kata-kata Inggris yang ku tuliskan di kertas mereka. Kadang kami terlelap bersama hingga pagi menjelang.

Sekolah di sini memang cukup baik dari segi bangunannya. Namun, keterbatasan fasilitas dan jumlah sumber daya manusia di sini sangat kurang mendapat perhatian. Tenaga pengajar di sini hanya lima orang. Kami harus mengajar dari kelas 1 hingga 3. Jadwal kami sangatlah padat. Kadang pula kami terpaksa menggabungkan kelas-kelas yang ada, di mana kelas 1,2 dan 3 berada pada satu kelas. Jumlah mereka memang tidak banyak. Tapi itu ada nilai plus-nya. Kakak-kakak kelas akan mengajari adik-adiknya belajar dan kami ikut membantu apabila ada murid kami yang masih belum paham.

Mereka murid-murid yang sangat antusias. Meskipun tidak berseragam dan bersepatu, itu tak menyurutkan semangat mereka dalam belajar. Senyum dan tawa seringkali membuat kelas menjadi tempat yang menyenangkan bagi kami semua.

Delapan tahun sudah aku bertugas di kampung ini. Dinas pendidikan kota menawariku untuk berpindah ke kota. Bila aku menerima tawaran ini, banyak keuntungan yang akan aku peroleh. Selain pekerjaan tetap dan gaji yang menjanjikan, aku akan lebih sering bersama suami dan putriku di rumah. Aku jadi tak perlu melaju dari kampung ke kota untuk mengunjungi mereka setiap akhir pekan. Perjalanan itu sering kutempuh dalam waktu 6 jam menggunakan motor atau mobil.

Aku menolak tawaran itu. Bukan berarti aku tidak menginginkannya, tetapi aku ingin jujur dari hatiku sendiri bahwa aku mencintai tempat ini dan sepenuh hati melakukan pelayananku di sini.

Kini akhir pekan. Aku hendak menuju ke kota. Suami dan putriku mungkin sudah menunggu di rumah. Aku kembali tersadar dan masih mengendarai mobil menuju rumah. Aku melaju sangat kencang. Aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri. Mobil melaju sejadi-jadinya. Akhirnya, aku menemui akhirku sendiri yang bahagia.

Salatiga, 26 Juni 2018

Featured

Haruskah Aku Bunuh Diri, atau Minum Secangkir Kopi?

coffee2-340x225

“Merenungkan bunuh diri adalah penghiburan yang besar. Dengan cara itu seseorang mampu melewati malam-malam yang gelap.”-Friedrich Nietzsche.

“Tetapi pada akhirnya, seseorang butuh keberanian lebih untuk tetap hidup daripada membunuh dirinya sendiri.”-Albert Camus.

Dead Poets Society adalah film drama Amerika tahun 1989. Film ini berlatar belakang 1959 di sebuah sekolah swasta elit asrama Welton Academy.

dead-poets-society-cast-now-poster.jpg

Cerita dibagun oleh tujuh murid baru Welton Academy dan seorang guru bahasa Inggris alumni akademi tersebut. Murid-murid tersebut ialah Neil Perry, Todd Anderson, Knox Overstreet, Charlie Dalton, Richard Cameron, Steven Meeks, dan Gerard Pitts. Guru bahasa Inggris tersebut bernama John Keating (yang diperankan oleh aktor kawakan almarhum Robin Williams.)

Film ini bercerita tentang guru bahasa Inggris yang menjadi inspirasi bagi para murid. Mr. Keating sangatlah berbeda dari kebanyakan guru pada umumnya. Berwatak ramah dan santai, metode mengajar yang out of the box, Mr. Keating mampu mengambil hati para murid agar jatuh cinta pada sastra, yaitu puisi. Berkat inilah, Neil Perry dan teman-temannya berinisiatif menghidupkan kembali Dead Poets Society, sebuah klub yang rutin berkumpul di malam hari dalam sebuah gua untuk membaca dan menikmati puisi setiap anggotanya.

Penulis ingin berfokus pada tokoh Neil Perry.

Neil Perry merupakan salah seorang murid berbakat dan cerdas. Ia mendapat nilai A dalam setiap pelajarannya. Hanya saja, hal tersebut bukanlah keinginannya. Ia hanya melakukan kehendak keras ayahnya. Ayahnya meninginkan dia menjadi murid terbaik seperti kakaknya dan lulus secepatnya.

Neil menemukan passion-nya dalam drama. Cita rasa seni dalam berekspresi ia salurkan lewat sebuah pentas drama komedi: A Midsummer Night’s Dream, karya Shakespeare. Drama tersebut berhasil menarik perhatian para penontonnya, tapi tidak bagi ayahnya.

Depresi pun datang mencekam. Neil kecewa karena tidak berhasil meluluhkan hati ayahnya yang keras dengan bakat istimewa dalam peran. Kesia-siaan dan tanpa harapan yang terang membawanya pada satu jalan, satu jawaban, satu kesimpulan, yaitu bunuh diri.

Ini mengingatkan penulis pada tragedi beberapa tahun lalu, saat masih menempuh pendidikan di sekolah menengah atas.

Sosok yang ramah dan ceria, adik kelas penulis yang mengambil jurusan bahasa, teman klub renang dan kepanitiaan drama sekolah. Singkat dalam perjumpaan, dia tanpa pamit telah berpulang terlebih dulu dari kehidupan. Pemuda berusia 16 tahun tersebut ditemukan bersimbah darah dalam kuburan dan beserta sebuah pistol genggam dengan luka tembak di kepala (baca di sini).

Pertanyaan-pertanyaan bisa muncul dari ironi ini. Apakah hidup itu? Apakah hidup itu bermakna? Mengapa harus hidup namun akhirnya pun mati? Bukankah ini sebuah kesia-siaan? Bukankah mempercepat kematian sama halnya dengan hidup menunggu tuk mati? Lantas, apa gunanya hidup tanpa harapan dan kesia-siaan? Apakah bunuh diri itu konsekuensi logis dari ketidakberdayaan manusia dan kehampaan manusia dalam menghidupi dirinya sebagai makhluk yang hidup?

World Health Organization, badan khusus PBB yang berfokus pada masalah kesehatan dunia memaparkan fakta mengenai suicide atau bunuh diri sebagai berikut:

  • Close to 800 000 people die due to suicide every year.
  • For every suicide there are many more people who attempt suicide every year. A prior suicide attempt is the single most important risk factor for suicide in the general population.
  • Suicide is the second leading cause of death among 15–29-year-olds.
  • 78% of global suicides occur in low- and middle-income countries.
  • Ingestion of pesticide, hanging and firearms are among the most common methods of suicide globally.

Bunuh diri merupakan tema yang cukup menarik perhatian. Ini pun yang menjadi pergumulan filosofis, seorang jurnalis, novelis, esais, Albert Camus. Dia menyatakan, “Hanya ada satu problem filosofis yang benar-benar serius, dan itu adalah bunuh diri. Menilai apakah hidup ini berupa kehidupan bermakna atau tidak, sama dengan menjawab pertanyaan mendasar filsafat.”

Ini dijawab oleh Camus dalam refleksi filosofinya dalam buku Mite Sisifus. Camus mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti apakah hidup layak dijalani? Jika keberadaan manusia tidak memiliki makna, apa yang bisa menjauhkan kita dari bunuh diri?

Camus mengambil mite Sisifus sebagai suatu jalan menuju hal-hal absurd ini. Mite ini menceritakan Sisifus yang dihukum oleh para dewa, karena kesembronoannya, karena mencuri rahasia dewa-dewa, ia dilemparkan ke neraka di dunia bawah. Para dewa memberikan dia hukuman untuk menggulirkan batu ke puncak gunung tak henti-hentinya, di mana batu tersebut setelah mencapai puncak, akan bergulir kembali ke bawah karena beratnya sendiri. Mereka berpikir bahwa tak ada yang lebih mengerikan daripada kerja sia-sia dan tanpa harapan.

230px-Punishment_sisyph.jpg

Tentu bila kita simak dengan akal sehat, hukuman tersebut sangatlah berat. Tidak ada tujuan dan kejelasan dari hukuman itu. Siksaan tersebut tiada pernah berakhir. Absurd. Kita melihat Sisifus sebagai pribadi yang menanggung takdir paling berat ketimbang berat batu itu sendiri.

Tapi Camus menganggapnya sosok pahlawan. Pahlawan melawan takdirnya. Mengapa? Karena di sini, Sisifus dengan kesadaran penuhnya, turun kembali ke dataran untuk meninggikan kembali penderitaannya yang tanpa harapan, mendorong batunya kembali ke puncak, dan di sinilah pula nampak bahwa dia lebih tinggi derajatnya ketimbang penderitaan itu sendiri. Sisifus merendahkan dewa-dewa dengan cara ini. Takdirnya adalah miliknya sendiri. Ini yang disebut Camus dengan gairah, harapan, kebebasan dan memberontak. Camus menutup tragedi itu dengan pernyataan yang memukau “Perjuangan dirinya sendiri menuju ketinggian cukup untuk mengisi hati manusia. Seseorang harus membayangkan Sisifus bahagia.”

Lantas, apa hubungannya dengan bunuh diri?

Hidup memang absurd. Bila kita selalu merasa bahwa hidup ini sulit, takdir selalu berat untuk ditanggungg, maka kebahagiaan Sisifus bisa dijadikan solusi. Seperti kisah-kisah di atas, bunuh diri adalah konsekuensi logis akibat ketidakberdayaan kita menghadapi realitas. Rata-rata bunuh diri disebabkan oleh depresi, stres juga gangguan kejiwaan. Kesedihan dan duka yang berlebihan, rasa kehilangan terhadap orang yang kita sayangi, kekecewaan yang kita lakukan pada orang lain, menyakiti dan disakiti, biasanya cenderung membawa kita untuk mengakhiri hidup, karena hidup dirasa tak memiki makna. Penulis pun pernah terjebak dalam ilusi serupa.

Sekali lagi, bunuh diri bukanlah solusi. Terlepas dari hidup memiliki makna atau tidak, teruslah memberontak dan tetap hidup untuk mengisi harapan kita sendiri dan orang-orang yang menyayangi kita.

Featured

Basa-Basi Warung Bu Rizky

DSC_0058

14 April 2018 lalu, berlokasi di daerah kemiri, saat malam terasa cukup hangat dan perut kenyang oleh makanan sederhana di warung makan Rizky, menggoda saya bersama teman saya (Lalas) bercakap-cakap dengan pemilik warung ini.

Bu Parni atau sebutan akrab kami “Bu Rizky” adalah pemilik warung makan ini. Bu Parni berasal dari Sedayu Wonogiri. Bu Parni yang lahir pada tahun 1970 kini telah berumur 47 tahun. Bu Parni memiliki dua orang anak, yaitu Erwin (27th), adalah anak pertama yang sudah memiliki pekerjaan dan tinggal di Jakarta, dan kedua ialah Rizky (kelas 1 SD) tinggal bersama kakak dari Bu Parni di Wonogiri. Suami Bu Parni adalah seorang tukang ojek, sering mangkal di pos ojek kemiri. Bu Parni merupakan sosok yang ramah, sabar dan murah senyum.

Berikut ini adalah basa-basi kami dengan Bu Parni

[RB] Kenapa pindah Salatiga Bu?

[BP] Ikut suami mas. Suami asal kemiri tempel. Saya udah di Salatiga hampir 10 tahun mas, tapi pindah kependudukan baru-baru ini.

[RB] Kenapa buka warung makan Bu?

[BP] Dulunya ikut orang mas. Pengalamannya kan jualan makanan, jadi saya ya ngikuti ini. Kalo yang lain ya aku-nya nggak bisa to mas kar’na pengalaman saya kerja ya di warung makan di depan itu (sambil nunjuk warung makan Gelegar di seberang) selama 7 tahun.

[RB] Udah berjualan sendiri berapa lama?

[BP] Udah 4 tahun mas.

[RB] Dibanding tempat lain, kenapa makanan di sini murah ya?

[BP] Saya tuh berprinsip gini mas. Jadi, dulu waktu kerja di Madiun, saya dibilangin bos saya kalo jualan itu jangan mahal-mahal, yang penting yang dateng banyak. Itu yang tak buat sampai sekarang. Dan ternyata beneran mas. Kalo yang dijual murah-murah, ya hasilnya juga banyak. Kalo jualnya mahal, yang dateng kan dikit ya hasilnya dikit.

 

[RB ] Menu di sini kan terbilang biasa Bu. Nggak kepikiran untuk buat masak yang lain?

[BP] Saya ogah pusing mas. Kalo mau ganti menu nanti pikir gini gitu dan lain-lain. Pengalaman saya kerja di madiun ya gitu. Fokus makanannya ya itu-itu terus mas. Ya makanya waktu jualan ya gini-gini aja mas hehehe.

[RB] Belanja di mana?

[BP] Di Pasar Pagi mas. Suami tak kasihke catetan buat beli bahan-bahan.

[RB] Mulai masak jam?

[BP] Saya biasanya bangun jam 5. Setelah sholat baru masak. Kadang yo setengah 5 atau jam setengah 6 baru mulai masaknya mas.

[RB] Ibu kan kerja sampai jam 8 malem nih. Sendiri. Nggak capek Bu?

[BP] Ya InysaAllah masih sehat. Mudah-mudahan dikasih sehat teruslah mas hehe. Kalo capek itu pasti. Namanya juga kerja to mas. Tidur aja capek apalagi kerja haha.

[RB] Tapi Bu, pernah sakit tapi maksa kerja?

[BP] Pernah mas. Lah, sekarang saya ini belum sembuh loh. Kalo malem itu batuk, pusing flu juga to mas. Saya tetep kerja mas. Kalo sakit tapi masih kuat ya ndak berhenti. Pas istirhat baru sehat. Saya gitu sistemnya. Kalo sakit cuman batuk ya tak paksa kerja mas. Kalo buat istirahat ya males to tidur terus hehe Nek ra kuat tenanan baru tak istirahat.

[RB] Usaha kayak gini udah cukup belum Bu untuk kebutuhan sehari-hari?

[BP] Alhamdulillah udah mas. Semasa buka warung ini, semua kebutuhan tercukupi karena dari warung ini. Dari bayar kontrakan, urusan anak, pribadi, makanan. Semua tercukupi mas hehehe.

[RB] Rata-rata perhari untung berapa Bu?

[BP] 600 ribu tapi kotor loh mas itu.

[RB] Modal?

[BP] Kadang 200 ribu sampe 350 ribu mas. Nggak pasti juga, tergantung kebutuhane mas.

[RB] Tadi Ibu bilang ini dikontrak ya?

[BP] Iya mas. Kontrakan ini baru bayar 23 Maret lalu. Minta 2 tahun sekarang. Dulunya 1 tahun baru bayar. Kar’na ganti pemiliknya. Dulu 1 tahun suruh bayar 8 juta. Ini yang 2 tahun bayar 15 juta.

[RB] Prinsip jadi pedagang apa Bu?

[BP] Kalo jadi pedagang itu harus melayani sebaik-baiknya, harus senyum, harus ramah. Kan ada to mas yang jualan ketoke nesu. Jadi nggak boleh marah, nanti saya ndak disukai anak-anak to mas hehehe.

[RB] Pernah nggak Bu dapet pembeli yang kelihatannya marah, pembawaannya kasar, ngomong pake nada tinggi waktu mesen makanan?

Pernah, buanyak sekali hahaha. Lah, kalo kayak gitu saya nanya maunya apa, kalo nggak mau ya nggak usah to mas hahaha. Suami saya aja pernah marahin orang kok, tapi tetep saya bilangin jangan. Waktu itu ada orang yang mesen sambel terus-terusan, habis, minta nambah, habis lagi minta lagi, terus-terus aja sampe suami saya marah karena katanya itu tuh nggak sopan. Kalo saya yo, ada orang marah saya yo ndak perhatikan gitu. Saya nggak ngata-ngatain kasar, tapi tak sambil ngapa gitu biar diane yo ngerti gitu loh mas. Ketika sini udah melayani sebaik-baiknya, meskipun pembeli itu raja ya jangan terlalu to mas. Banyak banget mas kayak gitu-gitu tapi besoknya balik sini lagi hehehe.

[RB] Kalo ada yang makan tapi nggak bayar, pernah Bu?

[BP] Banyak mas. Itu yang balik kar’na lupa bayar banyak. Kalo makan nggak bayar langsung pergi tuh banyak juga mas hahaha. Tapi saya tak ikhlaskan mas. Kar’na rejeki itu yang punya bukan saya, Allah yang di atas yang punya. Semua tak pasrahke mas. Ada juga kalo saya nyusuki kelebihan, mereka yo balikin mas. Mungkin karena saya baik sama orang, Allah juga ngasih baik sama saya mas hahaha.

(NB: Untuk temen-temen yang masih ngutang, segera dibayar ya :v)

[RB] Pernah kepikiran buat gedein usaha nggak Bu?

[BP] Kepikiran punya usaha besar ya pengen mas. Pengen besar, sukses, punya karyawan, saya pengen jadi bos hahaha. Harus berjuang dulu mas. Pengennya pindah ke atas ke kemiri 2 atau 1 karena rame. Cuman kontrakannya mahal banget mas. Teman saya yang dulu konter di sebelah itu, pindah ke atas ngontrak setahun 17,5 juta mas. Saya yo nggak nyampe mas. Wong anak saya yang kecil tiap bulan 2 juta e buat ngirim ke sana, ke kakak di kampung. Tapi gini aja tak syukuri to mas hehe.

 

Featured

Mengajar Seperti Finlandia

teach like finland

Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (Ki Hadjar Dewantara)

Bertepatan dengan tanggal 2 Mei 2018 pekan lalu, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Hari Pendidikan Nasional sangat tak mungkin terlepaskan oleh seorang  teladan yang memberikan sumbangsih terhadap pendidikan Indonesia, Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hadjar Dewantara. Kutipan di atas bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kira-kira seperti ini: dari depan memberikan teladan, dari tengah memelopori, dari belakang memberikan arahan. Lalu, siapakah sosok yang berperan penting di balik kata-kata ini? Yup! Dialah yang kita sebut sebagai guru.

Guru merupakan profesi yang sangat berperan penting bagi kemajuan pendidikan. Kemajuan pendidikan bisa dicapai bila guru mengajar dan mendidik para murid dengan baik dan benar. Sayangnya, bagaimana mungkin guru dapat melakukan tugasnya itu bila kesejahteraan guru belum terpenuhi? Persoalan itu biasanya meliputi tentang sertifikasi guru, tunjangan profesi dan pengangkatan guru honorer menjadi pegawai negeri sipil. Dan tak bisa dipungkiri  bahwa kekerasan pada murid oleh guru cukup memprihatinkan. Dalam Kompas.com (02/05/2018)
Komisioner KPAI bidang pendidikan Retno Listyarti mengungkapkan bahwa kasus kekerasan fisik dan anak sebagai korban kebijakan sebanyak 72 persen. Faktor-faktor seperti kurang terpenuhinya kebutuhan finansial, material dan juga batiniah seorang guru yang terkadang menyebabkan munculnya kekerasan terhadap anak murid. Murid merupakan bahan pelampiasan kekesalan guru. Dapat dipastikan bahwa guru tak dapat mengajar dan mendidik murid dengan baik dan benar karena hidupnnya sendiri tidak bahagia.

Terlepas dari dilema yang dihadapi para guru, penulis ingin mengulas sebuah buku menarik berjudul Teach Like Finland (Mengajar Seperti Finlandia). Buku ini ditulis oleh Timothy D. Walker, seorang guru dan penulis di bidang pendidikan asal Amerika Serikat. Buku Teach Like Finland ini merupakan kumpulan refleksi pribadi dia saat mengajar di Helsinki, Finlandia.

Finlandia sempat mengejutkan dunia. Finlandia dalam Programme for International Student Assessment (PISA), sebuah program yang mengukur kemampuan anak-anak berusia 15 tahun yang berhubungan dengan keterampilan membaca, matematika dan ilmiah, menunjukkan bahwa negara ini berhasil menjadi top dunia, mengalahkan 31 negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) pada 2001 yang lalu. Sayangnya, dalam iterasi PISA 2015 yang dikutip dalam Washingtonpost.com (08/12/2016) menyebutkan bahwa Finlandia kini telah keluar dari top ten dunia. Meskipun begitu, selalu muncul banyak pertanyaan mengenai pendidikan di Finlandia. Bagaimana pendidikan di Finlandia bisa semaju itu?  Apakah benar jam pelajaran yang pendek, PR yang sedikit, ujian yang tidak terstandarisasi menjadi kunci bagi murid agar berprestasi sangat baik?

Itulah yang menjadi alasan buku Teach Like Finland ini ditulis. Dalam buku ini, Timothy mencatat rahasia dan strategi mengajar dalam kelas di Finlandia. Buku ini dibagi menjadi lima bab, yaitu: Kesejahteraan, Rasa Dimiliki, Kemandirian, Penguasaan dan Pola Pikir. Di situ diuraikan secara jelas oleh Timothy, berdasarkan refleksi kritis terhadap pengalaman kepengajarannya, menjadi 33 strategi sederhana.

Poin pertama, kesejahteraan. Kesejahteraan ini meliputi jadwal istirahat, belajar sambil bergerak, recharge sepulang sekolah, menyederhanakan ruang, menghirup udara segar dan masuk ke alam bebas. Timothy mencatat bahwa jadwal istirahat yang cukup sering, pemberian PR yang sedikit namun relevan, aktif dalam melakukan hobi di waktu luang dapat menumbuhkan kreatifitas, inisiatif dan kemandirian siswa.

Poin kedua, rasa dimiliki. Rasa dimiliki yang dimaksud Timothy di sini ialah relasi antara guru dan murid. Relasi itu dapat dibangun dengan makan siang bersama murid pada jam isitrahat misalnya. Bermain dan berkomunikasi secara kelompok dan personal baik di dalam maupun di luar kelas kerap pula dilakukan oleh para guru Finlandia. Timothy menekankan agar guru mengenal dan memahami pribadi muridnya karena ini sangat berpengaruh pada interaksi belajar mengajar di kelas.

Poin ketiga, kemandirian. Kemandirian sangat penting dimiliki oleh para murid. Kemandirian ini diawali dengan pemberian kebebasan. Guru dan murid secara bebas dan kreatif merancang pelajaran dan belajar bersama. Murid dilatih untuk membuat dan menentukan pilihan mereka. Guru bukanlah penentu kebijakan. Guru hanya bertugas memberikan bantuan dan arahan bila murid membutuhkan mereka.

Poin keempat, penguasaan. Penguasaan yang dimaksud Timothy ialah guru harus bisa mengajarkan hal-hal mendasar agar murid bisa mengembangkan itu dengan kemampuannya sendiri. Guru dapat menggunakan buku pegangan, teknologi, musik, dan pelatih bidang tertentu untuk mengembangkan kemampuan ajarnya. Ada pula tes dan proyek menarik yang dilakukan murid tanpa ada tekanan yang menjadi pembuktian hasil belajarnya. Tak hanya itu, dalam urusan nilai, guru dan murid dapat mendiskusikannya secara bersama-sama.

Poin kelima, pola pikir. Pola pikir para guru tentu sangat mempengaruhi kemampuan mengajar dan mendidik murid di kelas. Di Finlandia, para guru memiliki pendekatan abundace-oriented. Pendekatan berorientasi pada kelimpahan ini menggeser perspektif kompetitif menjadi kolaboratif. Guru dan murid dapat berkolaboratif di kelas. Bahkan, dalam satu kelas pun bisa terdapat lebih dari satu guru. Guru pun harus berkulit tebal terhadap kritik dari murid, orangtua dan sesama guru. Tak hanya itu, Timothy mencatat bahwa liburan pun dapat meningkatkan kemampuan mengajar guru sebab guru dapat mengambil jarak dari rutinitas untuk berefleksi dan mengevaluasi usaha-usahanya agar menjadi lebih baik ke depannya. Pola pikir yang baik membuat guru dapat mengajar dan mendidik dengan baik.

Semua yang dijelaskan oleh Timothy berdasarkan pengamatan dan refleksi kritis terhadap kelasnya, sekolah-sekolah lain di Finlandia, diskusi dengan rekan-rekan guru dan para ahli di bidang pendidikan. Pada intinya, dia hanya menekankan strategi-strategi agar guru merasa bahagia dengan profesionalitas dan pekerjaannya. Lalu, apakah strategi-strategi itu bisa diterapkan ke dalam dunia pendidikan Indonesia? Dalam wawancara yang dilakukan news.detik.com (18/10/2018) dengan Profesor Erno August Lehtinen, guru besar pendidikan dari Universitas Turku Finlandia, mengatakan bahwa mungkin ini bisa ditiru namun, tak menjamin bisa sukses. Solusi yang dia tawarkan ialah bahwa bangsa inilah yang harus mampu bertransformasi sendiri sesuai dengan kondisi-kondisi saat ini.

Kalau begitu, apakah kita dapat menciptakan kelas yang menyenangkan? Ya, tentu saja.

Featured

Che Guevara: Sebuah Simbol dan Teladan Kehidupan

 

Masukkan keterangan

Bagi saya, sangat sulit untuk menerima kenyataan bahwa Che telah tiada. Saya sering memimpikannya, saya berbicara dengannya, seolah-olah dia masih hidup.” – Fidel Castro

Dalam ibadah suatu kedukaan (khususnya dalam lingkup Nasrani), biasanya pemimpin ibadah akan bercerita tentang pribadi orang yang telah meninggal. Dari pihak keluarga yang berduka pun akan bercerita mengenai kenangan-kenangan bersama orang yang telah meninggal. Artinya, seseorang yang telah meninggal hanya meninggalkan kenangan dan kebaikan serta keteladanan kepada orang yang masih hidup.

Buku Che Dalam Kenangan Fidel Castro adalah buku yang intinya kurang lebih sama dengan uraian di muka tadi. Bedanya ini ialah kenangan berbentuk tulisan. Sebuah kenangan seorang tokoh revolusi Kuba, Fidel Castro terhadap sahabat revolusinya Che Guevara. Buku ini merupakan kumpulan pidato-pidato Fidel Castro dan hasil wawancara terhadap dirinya.

Siapa Che itu? Ernesto Guevara de la Serna, begitulah namanya, lahir di Rosario, Argentina pada 14 Juni 1928. Che, nama panggilan akrab orang argentina, merupakan lulusan sekolah kedokteran di Buenos Aires yang  memulai perjalanan mengelilingi Amerika Selatan setelah lulus sekolah.

Che Guevara merupakan tokoh revolusioner besar, seperti pula diakui oleh Castro teman seperjuangannya. Dalam kehidupannya, Che merupakan sosok yang penuh dengan integritas. Che ialah seorang pemikir, pembelajar dan pelopor kesatuan kata dan aksi. Che merupakan orang yang rendah hati, tulus, dan selalu memikirkan kepentingan orang banyak. Tak hanya dikenal sebagai dokter, yang bertugas menyembuhkan pasukan sendiri dan musuh yang sekarat di medan perang, ia juga seorang tentara yang hebat, pemimpin perang gerilya yang handal dalam revolusi Kuba. Ia seorang sukarelawan pertama yang tulus menanggung tugas-tugas yang berat seperti menjadi Kepala Departemen Industri di Institut Nasional Pembaruan Agraria (INRA), Presiden National Bank of Cuba, Menteri Perindustrian dan tanggung jawab besar lainnya.

Dalam buku ini, Fidel Castro dengan jelas menceritakan sosok Che sebagai manusia yang luar biasa. Kenangan-kenangan yang diutarakannya ialah ketulusan dan apresiasi tertinggi terhadap ikon pembebasan dan perdamaian ini. Castro percaya bahwa sang revolusioner ini merupakan contoh teladan yang baik bagi kita yang merindukan kehidupan yang bebas, solidaritas universal, dan internasionalisme tanpa sekat. Nilai hidup dan sepak terjang Che bersama sahabatnya itu bisa kita tiru dan kembangkan demi mewujudkan dunia yang lebih baik.

Uraian singkat ini sangatlah tak cukup untuk menggambarkan sosok Che dalam kenangan Fidel Castro. Untuk itu, bacalah dan temuilah Che sebagai seseorang yang patut untuk kita teladani!

Sekarang ia… ada di manapun, di manapun ada keadilan yang harus dipertahankan. Mereka yang ingin membunuhnya, melenyapkannya, tidak pernah mampu memahami bahwa ia akan meninggalkan jejak kaki yang tak terhapuskan dalam sejarah, dan tatapan nabinya yang tajam akan mengubahnya menjadi simbol bagi seluruh kaum papa di bumi, yang jumlahnya berjuta-juta.” – Fidel Castro

Featured

Coretan Singkat Buku Anarkisme Untuk Pemula

Hasil gambar untuk anarkisme untuk pemula

Kebebasanku adalah sebuah kebebasan yang berfungsi bagi kebebasan semua orang. Penindasan bagi beberapa orang adalah tali kekang perbudakan bagi orang lain. Aku hanya dapat membebaskan diri ketika aku mengakui kebebasan dan kemanusiaan orang lain.” – Mikhail Bakunin.

Yup! Semangat kebebasan itu pula yang juga diusung oleh buku ini. Buku Anarkisme Untuk Pemula sejak awal sudah menunjukkan kebebasannya dari halaman pertama, yang tidak memiliki identitas buku pada bagian depan, daftar isi, bahkan kata pengantar sekalipun!

Buku Anarkisme Untuk Pemula merupakan buku bacaan ringan mirip komik. Buku seberat ± 0.20 kg ditulis oleh Marcos Mayer (seorang jurnalis, profesor dan penulis), dan diilustrasikan secara menarik dan gamblang oleh Sanyú (seorang ilustrator dan kartunis Argentina yang sebenarnya bernama Hector Alberto Sanguiliano). Buku seringan ini hanya memiliki 168 halaman.

Buku Anarkisme Untuk Pemula, sesuai dengan judulnya, merupakan pengenalan singkat mengenai paham anarkisme ini. Merujuk dari KBBI, anarkisme adalah ajaran (paham) yang menentang setiap kekuatan negara; teori politik yang tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang. Dasar anarkisme dijelaskan dengan jelas pada halaman 2, yaitu bahwa Negara dan-atau pemerintah  adalah alat utama  penindasan  manusia  yang telah berlangsung sepanjang sejarah dan hal itu menjadi alasan untuk menciptakan cara hidup baru lewat solidaritas dan kebebasan.

Dalam mengenalkan paham anarkisme ini, tentunya tak terlepas dari tokoh-tokoh penting yang memiliki semangat dan tendensi untuk mengubah kehidupan yang penuh penindasan ini. Tokoh-tokoh itu seperti Joseph Proudhon (sang pionir, seorang anarkis utopis), Mikhail Bakunin (seorang anarkis kolektif, ateis yang sering salah disamakan dengan Karl Marx karena secara rupa mereka hampir mirip, namun sebenarnya mereka adalah dua tokoh intelektual yang sering beradu argumen mengenai cara pandang terhadap dunia yang penuh penindasan), Peter Kropotkin (seorang bangsawan dan pangeran Rusia, namun kemudian menanggalkan statusnya itu untuk menjelajah dan belajar tentang anarkisme untuk membantu memperjuangkan kebebasan kaum proletar dari kerja produksi semena-mena), William Godwin (pendeta anarkis komunis tanpa gereja), Max Stirner (yang terkenal dengan anarkisme individualis), Leo Tolstoy (karyanya yang terkenal War & Peace yang menerapkan anarkisme lewat cara-cara damai dan relijius), Enrico Malatesta (pejuang anarkis di Italia), Diego Abad de Santillan (anarkis Spanyol), Emma Goldman (seorang anarkis feminis, buruh perempuan yang berjuang membela dan mengangkat martabat kaumnya) dan masih banyak lagi yang secara sekilas disebut-sebut dan diceritakan secara singkat.

Buku ini tak hanya menceritakan kiprah tokoh-tokoh anarkis dengan macam-macam anarkisme yang diusung mereka. Buku ini juga menceritakan sejarah anarkisme beberapa bangsa seperti di Spanyol, Perancis, Italia, Rusia Jerman dan lainya yang sarat akan aksi demonstrasi, perusakan fasilitas umum dan bahkan pengeboman. Lalu, anarkisme ini juga tak melulu melalui hal-hal tersebut, namun juga mendapatkan tempat dalam musik, puisi, lukisan dan drama.

Menurut penulis, buku bertema sosial-sejarah ini sangat menarik. Mengapa? Sebab buku ini memiliki gaya dan penyajian yang menarik dan ringan, bahasa yang singkat dan blak-blakan serta ilustrasi-ilustrasi yang mendukung dan menggelitik para pembaca di setiap halamannya. Dalam sekali duduk, isi buku ini bisa langsung “dilahap” pembaca sambil minum kopi, makan snack dan bersantai di mana pun dan kapan pun.

Tak hanya untuk mengiisi waktu luang, buku ini bisa jadi merupakan dasar-dasar bagi pembaca untuk menyusun siasat memperebutkan kebebasan, yang merasa hak dan kewajibannya terkekang oleh seseorang atau institusi tertentu seperti sekolah, kampus, pemerintah atau negara, yang merasa muak dengan pemimpin-pemimpin yang semena-mena, dan sok-sok-an berkuasa sepanjang hidup, korup, dan menindas harkat martabat orang banyak. Intinya, siapa yang merasa tidak bebas, monggo dibaca bukunya. “Mereka-mereka, militan yang paling sadar, mesti menjadi yang pertama memimpin kawan lain dengan menjadi contoh di dalam perjuangan.” oleh Diego Abed de Santillan.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

Featured

20 Tahun

Perayaan seperti apa yang cocok untuk mengenang 20 tahun perjalanan hidup semuda ini?

Mari ku ajak kau bermain-main dengan waktu. Kita kembali ke masa kecilmu yang dulu. Lihat, itu dirimu! Menangis meminta air susu di hari Minggu. Meski kau menyapa dunia dengan tangismu, dunia tetap menerimamu dengan senyumnya.

Kata dan bahasa. Itu alat yang penting supaya kau dan aku saling paham. Kau mulai berkata-kata, menirukan sedikit kata-kata yang diucap dari bibir orangtuamu. Dan lagi, kau mulai menggunakan inderamu, bagian tubuhmu yang juga penting untuk mengenali duniamu.

Pendidikan dini mulai kau jamah. Awal yang baru bersama bocah-bocah seumuranmu. Tapi oh! Siapa yang mengajarimu bertindak seperti itu? Gadis kecil itu, tak kau kasihanikah? Aku pun sedih melihatmu terpojok di sudut ruang itu, sepi menyendiri. Maaf aku tidak bisa membantumu kala itu.

Nah, kini kulihat kau sedang bersenang-senang dengan teman-temanmu. Aku yakin betul kau sudah belajar dari masa pahit itu. Aku pikir mereka juga senang di dekatmu.

Kau tahu, apa yang bisa kau pelajari dari kakakmu itu? Yup benar! Kau tahu seperti apa laki-laki seharusnya. Tak usah kau pendam dendam itu. Yang bisa kau perbuat ialah menyayangi kakakmu dan si kecil itu.

Sini kubujuk engkau. Aku tahu ini pengalaman pertamamu jauh dari mereka, orang-orang yang kau cintai. Tapi yakinlah, kau bakal menemukan kembali orang-orang baru yang bisa kau cintai di sini. Di sini aku melihat, kau mulai belajar berdiri di kaki sendiri meskipun harus terjatuh berkali-kali. Terbentur! Terbentur! Terbentur! Terbentuk! Itu sesuatu yang hebat bukan?!

Wah, kali ini kau ku kenalkan dengan kebebasan. Aku tahu, itu bukan sembarang konsep. Apalagi tak mudah untuk sekadar melaksanakannya. Tetapi cobalah terus untuk kau refleksikan. Hidup dipenuhi pilihan. Konsekuensi selalu ada di setiap pilihanmu. Pilihlah maka kau bebas. Aku tidak ingin kau merasa terkungkung, ikut-ikutan dan membuta-membebek. Aku tidak ingin juga kau untuk berlaku seliar-liarnya karena itu merusak kebebasan itu sendiri. Dan satu lagi, jangan coba-coba untuk menganggu kebebasan orang lain ya!

Oke, kita semakin lama semakin mendekati pintu realitas. Lihat, banyak sekali jalan di luar sana! Kau bingung memilih jalan apa kan? Tak soal. Cobalah jalan terus, sambil menguping di hatimu. Meski pun kau bimbang dengan masa depan, yang kadang pula menjadi ketakutan dalam tidur malam, yang bisa kau lakukan ialah merasa bahagia hari ini. Ya hari ini! Suatu solusi kah itu? Tidak tentunya. Itu pun tak menjamin membuatmu hidup tenang hari ini. Kejenuhan dan kepenatan, kelabilan dan kebimbangan, kecemasan dan kegalauan hanya ilusi agar kau tidak sungguh-sungguh memainkan peranmu di atas dunia ini. Hidup ini absurd. Hidup ini tak bermakna. Banyak orang menyebarkan omong kosong bahwa hidup itu harus punya arti. Benar juga kata Pak Tua, “Hidup itu sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya”. Yang memahami hidupmu hanya kamu, bukan dia atau siapa pun.

Aku tahu, dari hari ke hari kau merasa terasing. Apa kau merasa teralienasi dari kenyataan? Hmm, aku pun tak tahu dari mana itu bisa terjadi. Aku hanya tahu, dari gelagatmu itu, diam-diam kau merasa ada yang tidak beres dengan sekitarmu. Dan coba kutebak… banyak hal yang sedang kau pikirkan, bukan?! Oke, percaya saja bahwa cahaya akan datang pada waktu yang tepat.

Sini! Kuajak kau berkaca. Ada sebuah cermin di sana. Lihat, kau sudah tumbuh seperti ini! Oh iya, Mama dan Kakak sudah bersama. Mereka sudah memiliki kebebasan sejati dan hidup aman-nyaman dalam gendongan Bapa. Ucapkan terima kasih pada semuanya, bahkan kepada bunga yang mati di taman atau angin yang tak bisa kau lihat. Aku yakin sekali 20 tahun hidupmu ini ditata seapik mungkin sekehendak Kuasa-Nya. Pada perayaan ini aku ingin bertanya, kau ingin apa?

“Aku ingin terus berharap.”

Jayapura, 16 November 2017

Featured

Madilog oleh Tan Malaka untuk Indonesia

madilog

Madilog atau materialisme, dialektika dan logika merupakan buah pikir Tan Malaka. Madilog ditulis di Kalibata, Cililitan, Jakarta. Tan Malaka menulis buku ini sejak 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943. Artinya Tan membutuhkan waktu kurang lebih 8 bulan, 720 jam, 3 jam sehari untuk menyelesaikan karyanya ini.  Buku ini ditulis sembari akrab dengan pelarian Tan Malaka dari jarahan militer Jepang kala itu.

Madilog merupakan karya revolusi Tan, sebab madilog merupakan cara berpikir kaum proletar. Materialisme, dialektika dan logika merupakan hasil budaya barat (lebih tepatnya cara berpikir kaum proletar barat buat membentuk gerakan-gerakan revolusioner) yang diracik sedemikian rupa oleh Tan Malaka sehingga cocok dengan iklim masyarakat Indonesia.

Buku ini pun muncul sebagai bentuk keprihatinan Tan Malaka pada bangsa Indonesia. Kaum proletar Indonesia kala itu masih minim pola/cara berpikirnya. Apalagi, kebudayaan timur bangsa kita yang cenderung bergantung pada kegaiban atau hal-hal berbau roh.  Tan menyebut ini sebagai Logika Mistika. Kecenderungan masyarakat kita pada cara berpikir seperti ini menurut Tan Malaka justru melumpuhkan, sebab segala persoalan yang dihadapi masyarakat kita, khususnya kaum proletar kita, dianggap sebagai takdir, di luar kuasa dan tak bisa diselesaikan/dipecahkan lagi. Dampaknya bagi bangsa kita ialah imperialisme dan kolonialisme oleh bangsa lain (Belanda dan Jepang kala itu) semakin bersimaharajalela menindas bangsa kita. Maka, Madilog-nya Tan Malaka lahir sebagai pelopor dan jawaban yang setidaknya mampu membantu membentuk cara berpikir yang baru bagi kaum proletar Indonesia pada khususnya, dan kaum terpelajar Indonesia untuk berjuang demi keadilan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Dalam Madilog, sesuai judulnya, terdapat tiga pokok besar yang akan dikemukakan oleh Tan Malaka. Ketiga pokok itu antara lain, Mater atau benda, Dialectica atau pergerakan/pertentangan dan Logica atau hukum berpikir. Ketiga pokok tersebut saling berhubungan atau  bertautan satu dengan yang lain.

Mula-mula Tan Malaka mengenalkan kita pada paham kebendaan atau yang biasa disebut filsafat materialisme. Tan menggunakan dasar materialisme Engels.  Secara garis besar, materialisme ini menjelaskan soal benda atau materi. Benda atau materi sebagai dasar atau pijakan buat berpikir. Konsep mengenai benda ini bisa kita pahami dengan penginderaan. Hasil penginderaan itulah yang membentuk konsep atau ide dalam pikiran kita, sehingga kita bisa memahami (kodrat) benda itu sendiri.

Filsafat materialisme inilah yang kemudian menelurkan ilmu-ilmu alam. Ilmu-ilmu alam merupakan hasil pengamatan/penginderaan terhadap fenomena-fenomena alam. Dari hasil pengamatan/penginderaan tersebut lahirlah bukti, teori, atau hukum dasar yang digunakan sebagai dasar berpikir manusia untuk memahami alam, makhluk-makhluk hidup dan segala kejadian-kejadian di dalamnya. Sebut saja fisika, biologi dan kimia yang kita pelajari waktu di sekolah menengah bahkan hingga saat ini, berguna buat kehidupan dan memajukan peradaban kita dari hidup primitif menjadi modern.

Bukan hanya ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu masyarakat pun merupakan hasil dari filsafat materialisme. Masyarakat dan segala bentuk interaksinya merupakan sesuatu yang bisa dijadikan dasar buat dipelajari demi tercapainya pemahaman terhadap masyarakat dan segala aspek yang melingkupinya.

Setelah berkenalan dengan Mater, Tan Malaka akan memperkenalkan kita dengan Dialectica, salah satu cara berpikir buat memahami Mater tadi. Dialektika Engels ini merupakan ilmu pergerakan atau ilmu pertentangan. Dialektika dinamakan ilmu pergerakan sebab benda senantiasa bergerak atau berubah. Pergerakan atau perubahan ini disebabkan oleh perubahan kualitas akibat perubahan kuantitas. Dialektika juga dinamakan ilmu pertentangan sebab sebuah benda akan menegaskan dirinya sendiri dan menunjukkan kodratnya yang hakiki dengan membatalkan dirinya sendiri atau biasa disebut pembatalan kebatalan negation der negation.

Lalu, “senjata” berpikir terakhir yang diperkenalkan Tan Malaka pada kita ialah Logica. Logika sudah jamak terdengar di telinga kita, bahkan sejak sekolah dasar, logika atau hukum berpikir yang masuk akal ini mulai dibentuk, diajarkan dan diasah terus-menerus hingga saat ini. Sebut saja matematika dan geometri yang sungguh menerapkan cara berpikir logika ini. Logika itu menjawab pertanyaan yang pasti, ya atau  tidak. Logika itu menegaskan bahwa misal,  A itu bukan non A. Maka, tak heran pula jika ilmu-ilmu alam tak luput dari penggunaan logika ini.

Ketiga hal di atas merupakan inti bahasan buku ini. Mater dipahami dengan jalan Dialectica atau Logica. Benda, dialektika dan logika saling berkaitan satu dengan yang lain. Apabila benda tak bisa dipahami dengan dialektika, maka logikalah jalan alternatifnya atau sebaliknya. Namun, tak menutup kemungkinan bahwa hanya salah satu dari dua cara berpikir tersebut yang dapat digunakan. Kombinasi dua senjata berpikir ini bisa saling melengkapi untuk memahami benda, contohnya ini sering digunakan dalam ilmu-ilmu masyarakat.

Madilog sekali lagi merupakan cara berpikir untuk melihat fenomena-fenomena, menjawab persoalan-persoalan atau hal-hal yang perlu dipecahkan/diselesaikan dengan penginderaan atau sesuatu yang bersifat nyata. Artinya, madilog pun memiliki batasannya sendiri. Madilog tidak dapat menjawab atau menyelesaikan persoalan atau hal-hal yang abstrak, misalnya soal Tuhan dan kepercayaan terhadap dewa-dewa dan sejenisnya. Hal ini di luar jamahan madilog, sehingga Tan Malaka menegaskan bahwa tak perlu berkuras peluh atau menghabiskan energi untuk mepersoalkan hal-hal gaib dan sejenisnya ini.

Madilog Tan Malaka ini merupakan karya revolusioner dan persembahan epik buat bangsa Indonesia. Namun, seberapa terkenalkah Tan ini di negeri kita, khususnya bagi kita generasi muda?  Penulis hanya mengira-ngira bahwa sebagian besar generasi ini tidak mengenal siapa Tan Malaka. Tan Malaka adalah salah satu orang penting yang ikut berjuang dalam memperebutkan dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Orang cerdas yang satu ini merupakan buronan berbahaya oleh rezim Belanda. Ia selalu diburu, berganti-ganti identitas, dan bersembunyi di banyak negara. Namun, pelarian dan pengorbanannya bertahun-tahun bagi negeri ini harus bertepuk sebelah tangan. Dia dibungkam oleh sejarah. Tan dibunuh oleh bangsa sendiri, oleh militer Indonesia pada 21 Februari 1949. Sebab Tan dibunuh pun sekadar masalah klasik, yaitu rezim otoriter yang takut kuasanya digulingkan oleh Tan Malaka karena gagasan-gagasan kirinya yang radikal dan tanpa kompromi. Maka penulis tak heran bila Tan kurang terkenal seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sohearto dll sebab namanya tidak kita temukan di buku-buku sejarah yang kita pelajari dulu (silakan pembaca buktikan sendiri). Tapi karyanya-karyanya membuatnya sejajar dengan bapak-bapak bangsa tadi.

Sekali lagi, gagasan-gagasan Tan Malaka dalam buku Madilog ini bertujuan untuk mengajak dan mengubah masyarakat kita agar segera berpindah dari logika mistika ke logika materialisme dan logika dialektika. Ilmu-ilmu alam, makhluk hidup dan masyarakat harus tekun digeluti. Cita-citanya ialah memerdekakan setiap individu yang tertindas, sebab kita masih bodoh atau sengaja dibodohkan sehingga mudah sekali diombang-ambingkan. Dulu kita dijajah oleh bangsa asing, Belanda dan Jepang. Kekayaan alam dan segala makhluk hidup kita diambil buat “perut” dan “kantong” mereka. Namun saat ini, kita dijajah oleh bangsa sendiri dengan bentuk yang berbeda. Ini bisa kita lihat dari orang-orang sebangsa yang kedudukan atau jabatan orang-orang tersebut lebih tinggi dari kita. Kebanyakan dari mereka mengganggap diri mereka cerdas dan bermartabat. Sebut saja bos perusahaan yang kerapkali semena-mena menindas karyawan-karyawan; guru, kepala sekolah, dosen, rektor yang egois dan tamak yang sengaja mengoblok-goblokkan para pelajar; pemerintah sok kuasa yang menghilangkan kemanusiaan rakyat, politisasi agama demi kekuasaan, dan masih banyak lagi. Kebodohan dan pembodohan bukannya dibasmi, malah dikembangbiakkan dan sengaja dibudidayakan demi kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompok mereka.

Terima kasih Tan Malaka. Semoga buah karyamu ini terus dinikmati ibarat buah yang matang di pohon tepat pada waktunya, selain enak pun sehat buat raga. Semoga gagasan-gagasan revolusionernya menggerakkan akal dan nurani kita. Semoga suaramu semakin lantang dari dalam kuburmu.

“Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi!” Tan Malaka.

Featured

65/66

Malam minggu kemarin, seperti biasanya, aku mengunjungi toko buku. Iseng-iseng berburu buku, tapi buku itu sepertinya sudah ditarik dari peredaran atau pun mungkin sudah sold out. Ransel yang ku bawa ku titipkan di penitipan. Aku diberikan kartu bernomor 66. Angka ini mengingatkanku pada …

16 September 2017 lalu, media sedang  gencar-gencarnya meliput pembubaran suatu seminar bertema “Pengungkapan Sejarah 1965/1966” oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Jakarta Pusat (baca).

Menarik bahwa, dari kejadian ini, lahir asumsi, pandangan, opini, wacana yang beraneka ragam. Ada yang mengatakan bahwa seminar tersebut merupakan pelurusan sejarah yang keliru, pengungkapan kebenaran, penyebaran paham komunis, cikal bakal lahirnya PKI dan lain-lain. Tak luput pula bahwa terdapat tuduh menuduh bahwa orang-orang yang terlibat dalam seminar tersebut adalah antek-antek PKI.

Semakin menarik lagi, bahwa ternyata, terdapat massa yang mengatasnamakan ormas agama dan pemuda datang berbondong-bondong dan menuntut paksa untuk membubarkan seminar tersebut. Meskipun fasilitas gedung mengalami kerusakan, untungnya tak memakan korban malam itu (Lihat).

Lalu, kita bertanya. Kenapa? Ada apa dengan tahun 1965/1966?

Aku pun tidak tahu. Tentu pada waktu itu, kita belum lahir. Mungkin, orangtua kita pernah menceritakan pada kita, apa yang terjadi pada waktu itu. Atau mungkin kita pernah membaca pada buku-buku atau referensi-referensi yang ada.

Karena aku tidak tahu persis apa yang terjadi pada 1965/1966, aku pun tak bisa bercerita panjang lebar mengenai sejarah waktu itu. Tetapi yang jelas perlu kita ketahui bersama bahwa negara kita pernah mempunyai masa lalu yang kelam.

Peristiwa tahun 1965/1966 merupakan tragedi kemanusiaan yang terbilang paling banyak menarik perhatian. Persitiwa ini menjadi penting di mana sedang tejadi masa transisi dari Orde Lama (Soekarno) ke Orde Baru (Soeharto). Ditambah lagi, hal ini menjadi amat penting, di mana terdapat banyak penelitian/riset sejarah dan buku-buku yang membahas mengenai sejarah tersebut. Untuk mengetahui cerita di balik 1965/1966, silakan baca buku atau googling sendiri ya :v

Yang menarik perhatianku di sini ialah soal kemanusiaan di balik tragedi tersebut. Di sini terjadi pembantaian, penculikan, penghilangan dan pembunuhan massal. Orang-orang PKI dan yang dituduh (secara paksa) PKI merupakan korban. Jumlah korban jiwa akibat pembantaian tersebut sangat banyak. Diperkirakan 500.000 sampai 1.000.000 dibantai dengan 750.000 orang dipenjarakan atau dibuang. Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965 (YPKP 65) memperkirakan bahwa mungkin bisa terdapat  3.000.000 jiwa korban yang terbunuh pada peristiwa 1965/66. Dan jumlah korban/keluarga korban yang masih hidup sekarang diperkirakan mencapai 20.000.000 jiwa (baca).

Prihatinkah kita? Kalo prihatin, tak takutkah kita kalo mungkin dituduh antek-antek PKI, mengingat tiga huruf tersebut adalah phobia umum dan ibarat borok di masyarakat kita bila mendengarnya?

Terdapat dua film dokumenter apik yang sudah ku tonton, garapan Joshua Oppenheimer, berjudul Jagal dan Senyap. Kedua film tersebut berfokus pada korban pembunuhan/pembantaian yang berkaitan dengan PKI. Film Jagal menceritakan tentang reka ulang adegan para algojo dalam membunuh orang-orang PKI dan yang tertuduh PKI, sedangkan film Senyap menceritakan seorang adik korban yang berusaha melakukan rekonsiliasi dengan para algojo pembunuh kakaknya (korban tertuduh PKI yang dibunuh).

Setelah mengetahui (sangat) sedikit sejarah kelam kita, ditambah melihat film-film di atas, aku merasa sisi kemanusiaan kita sedang diusik. Begitu mudahnya kita saling membunuh. Begitu egoisnya kita menggunakan kekerasan untuk mencari kursi, merebut jabatan, dan memperjuangkan sebuah ideologi sampai mengorbankan orang lain yang tak bersalah. Tanda hati nurani yang tumpul. Aku hanya mau bilang, angka 500.000, 600.000, 1.000.000 atau bahkan 1M sekalipun bukan cuman sekadar angka, tapi ini soal manusia.

 

Featured

Salam Bangga, Anakmu!

18221823_659214947615811_1171590952290646076_n

5 Mei 2017 merupakan hari yang kami (keluarga) tunggu-tunggu. Bapak mengikuti ujian terbuka dalam rangka memperoleh gelar doktoralnya. Puji Tuhan semua berjalan dengan lancar dan dengan hasil sangat memuaskan.

Perjalanan studi Bapak cukup panjang. Kurang lebih 8 tahun Bapak melakukan penelitiannya. Di sela-sela kesibukan dalam keluarga, Gereja, dan kampus tempat ia mengajar, Bapak dapat merampungkan kewajibannya untuk “kuliah” (atau boleh aku sebut dengan “sekolah”). Kesibukan-kesibukan tersebut yang kurang lebih membuat kuliahnya menjadi cukup lama rampungnya. Sejauh pengamatanku prioritas pada keluarga dan orang lain dihidupinya dengan sungguh-sungguh. Tak cukup untuk menguraikan apa-apa saja yang Bapak lakukan. Intinya aku bangga dan berterima kasih karena Bapak sudah menyelesaikan studinya.

Ujian terbuka hari itu merupakan momen yang penting bagiku. Aku menyadari bahwa “keilmuan” begitu sakralnya. Ini ditandai dengan tata ruang yang cukup megah-terstruktur, ritual seperti prosesi masuk dan keluar ruangan yang teratur, pakaian “kebesaran” yang digunakan rektor, para penguji dan Bapak sendiri, serta suasana yang khidmat selama ujian.

Lalu, untuk pertama kalinya aku bersama Ibu menemani Bapak dalam presentasinya di hadapan orang-orang berintelektual itu (dilihat dari gelar-gelar yang mereka peroleh). Saat itu aku dihadapkan dengan realitas, hasil penelitian Bapak yang cukup mencengangkan. Baiknya kuceritakan sedikit tentang penelitiannya itu. Judul disertasi (sudah menjadi sebuah buku) Bapak adalah Termarjinalisasi Kelapa Sawit: Resistensi dan Coping Orang Workwana Papua. Orang Workwana merupakan sebuah objek desa yang diteliti Bapak. Termarjinalisasi Kelapa Sawit di sini secara kasaran berarti proyek kelapa sawit, oleh “yang berkuasa”, secara langsung mengubah tatanan kehidupan orang-orang di desa tersebut dari segala segi kehidupan seperti budaya, sosial, politik dll. Ada unsur penipuan terhadap masyarakat desa tersebut. Mereka sebagai pemilik lahan telah ditipu oleh yang berkuasa tadi. Ini ditandai dengan tidak adanya hasil kerja mereka yang mereka nikmati. Unsur kekerasan dan taruhan nyawa pun merupakan polemik di desa tersebut. Hal-hal tersebut membuat mereka tak lagi peduli lagi dengan urusan kelapa sawit. Yang aku takjubkan adalah meskipun hidup dalam ketidakadilan seperti itu, mereka berusaha untuk melawan nasib. Ada yang membuka kios (berdagang), kembali berburu di hutan, ngojek, jadi PNS, bersekolah, berkuliah dan mama-mama (sebutan bagi ibu-ibu di Papua) berjualan di pasar. Itu yang disebut resistensi dan coping tadi. Aku tergugah dengan perkataan salah seorang korban ketidakdilan yang dikutipkan Bapak “…bagaimanapun kami harus tetap hidup!”

Tak perlu aku jelaskan panjang lebar mengenai hasil penelitian Bapak sebab dapat mengubah esensi oleh penulis sendiri dengan apa yang aku utarakan di sini.

Apa yang dapat dipetik dari momen ini? Bapak bila berdiskusi denganku selalu menekankan untuk melanjutkan studi setelah lulus nanti. Mungkin nadanya terkesan memaksa, tetapi kalau dilihat dari sudut pandang lain, dia ingin menjelaskan bahwa berpendidikan dan berilmu tinggi itu penting. Bapak sendiri sudah membuktikan bahwa ilmu dan pendidikan itu harus berguna bagi orang lain, khususnya masyarakat. Berilmu dan berpendidikan tinggi pun perlu diimbangi dengan karakter yang arif dan berbudi luhur. Ibarat padi, semakin berisi semakin menunduk. Realita kita menunjukkan bahwa banyak orang mempunyai gelar yang bermacam-macam, dan kita mempunyai konsep bahwa banyaknya gelar sebanding dengan tinggi keilmuan (entah itu murni didapatkan dengan kerja keras atau sekadar “instan” membeli ijazah dan gelar). Tetapi tak menutup kemungkinan bahwa orang-orang yang kita sebut sebagai orang-orang intelek dan terhormat karena memiliki banyak gelar, dapat berkarakter busuk (ini dapat kita lihat pada orang-orang berompi oranye dan orang-orang yang masih bermain “petak umpet”). Akibatnya, masyarakat dirugikan dan moral pun rusak.

Begitulah cerita mengenai momen penting ini. Akhir kata, ilmu dan pendidikan yang kita nikmati merupakan alat untuk menghidupi diri sendiri dan orang lain, tak lupa pula demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.

Untuk Bapak, selamat atas segala perjuangan dalam studi-studi selama ini. Tetaplah mengabdi, melayani dan menjadi panutan kami, anak-anakmu. Salam bangga, anakmu!